Work From Home Masihkah Sesuai?


 Tidak terasa, sudah hampir melewati satu bulan lebih kita beraktifitas 'hampir normal'. Kenapa saya sebut demikian ?

Karena memang demikian kenyataannya. Sudah semua orang kembali ke kantor. Ada beberapa perusahaan masih menerapkan Work From Home, tapi semua mulai berangsur kembali ke kantor. Semua sudah penuh kembali di mana-mana. Tidak ketinggalan tempat wisata, rumah ibadah juga mulai penuh kembali. Tidak terbilang jalanan Jakarta yang sudah kembali macet dimana-mana.

Ini mengantar ke pertanyaan apakah Work From Home (WFH) masih sesuai ?

Tidak bisa dipungkuri, fenomena WFH memang sempat booming di Indonesia, apalagi pemerintah sendiri juga memutuskan mekanisme WFH. Meskipun sekarang, kita mulai kembali WFO. Dan pemerintah juga sedang menimbang efektifitas bekerja dari rumah bagi para ASN.

Tapi kita lihat ada pola menarik. 

Pertama, pekerjaan yang bisa WFH, mungkin akan tetap WFH, tapi ada kondisi. Nah mengapa ada kondisi? Karena ternyata kita tidak bisa sepenuhnya WFH, tetap perlu saat-saat kita harus datang bertemu dengan orang, tim, dan karyawan yang lain. Sebagian tugas administrasi tidak bisa WFH, tapi harus WFO. Bagian logistik apalagi. Tapi tetap ada bagian yang mungkin bisa WFH, tapi ... mereka harus memenuhi kondisi tertentu. 

Dalam posting terbaru yang sedang viral, Elon Musk meminta karyawan TESLA untuk tidak WFH kecuali telah memenuhi kewajiban kerja 40 jam. Kalau kita hitung dengan pola kita, maka 40 jam = 8 x 5 hari, alias lima hari kerja juga. Nah !!

Artinya tetap saja orang harus bekerja dulu selama 40 jam, 5 hari kalau di Indonesia untuk bisa memungkinkan dia mengambil kesempatan bekerja secara remote. Ada kondisi-kondisi yang membuat pengusaha melihat WFH tidak sesuai lagi. Dan semua kembali ke normal, kembali WFO. 

Kedua, pekerjaan yang bisa full WFH, mungkin akan di outsource keluar. Ini menarik. Karena ternyata, ada generasi muda kita yang sekarang ini lebih suka bekerja secara WFH, bahkan waktu di-interview sudah bertanya, bisa bekerja remote ? Fleksibilitas waktu memang diminta. Tapi pengusaha juga tidak mau kalah. Peraturan resmi WFH, perundangan terkait karyawan WFH belum ada. Maka mereka dianggap pekerja paruh waktu, freelance, atau istilahnya pekerja tidak terikat, dan haknya sebagai karyawan tentu tidak penuh. Tapi ini sangat wajar. Kontrak juga sangat wajar, meskipun masih banyak yang kolot dan mau mengejar status karyawan tetap, full employeement. 

Kecenderungan memberikan pekerjaan ini sebagai outsource semakin besar, karena memang perusahaan merasa, mereka tidak memberikan kontribusi kehadiran di kantor, sehingga wajar pola outsource, freelance, kontrak diterapkan. Tapi pencapaian, performansinya juga akan diukur berbeda. 

Ketiga, pekerjaan WFO sangat penting. Ternyata, sebagian besar masyarakat kita masih sangat berharap menjadi pekerja resmi, hadir ke kantor, punya meja kerja, punya ruangan, punya laptop kerja, punya kartu nama, masih perlu status. Freelance mungkin dirasakan cukup bagi pemula, usia di bawah 30 mulai mencari kestabilan, tapi ini mengakibatkan mereka harus memilih. Pindah karir menjadi pekerja tetap, bukan freelance lagi. 

Kalau kita lihat diatas, maka kita akan menemukan beberapa hal menarik di seputar kita. Ada anak muda di kota-kota besar Indonesia yang lebih cenderung untuk bekerja remote, fleksible waktu, tapi target dikontrol. Mereka nyaman sebagai freelance. Tapi begitu mulai memasuki usia matang, mereka mencari pekerjaan tetap, mencari keamanan di balik perusahaan. Maka WFO menjadi pilihan. 

Mungkin kita masih dalam masa transisi, setidaknya 5-10 tahun kita akan melihat apakah tren ini akan berlanjut, yang muda suka WFH, yang dewasa cenderung WFO. Atau akankah berubah?

sumber : https://www.kompasiana.com/startmeup/62981868bb4486402c315482/work-from-home-masihkah-sesuai?page=2&page_images=1

Post a Comment

0 Comments