Work From Home: Norma yang Baru atau Cukup saat Pandemi Saja?

 Harus diakui, dinamika sosial sebelum 2020 terasa sangat berbeda dibandingkan sekarang. Meski teknologi telah berkembang sedemikian rupa–di mana kita bisa berkomunikasi dengan individu di belahan dunia lainnya secara realtime–kita masih menjalani kehidupan dengan pertemuan tatap muka sebagai default. Toh, manusia memang makhluk sosial, bukan? Hingga pandemi COVID-19 datang dan membolak-balikkan kehidupan yang kita tahu. Mau tak mau, kita dipaksa untuk berpikir di luar zona nyaman kita dan kita temukanlah jawabannya: teknologi.

Himbauan untuk mengurangi, bahkan menghilangkan kontak fisik di awal pandemi membawa teknologi masuk ke dalam sela-sela kekosongan yang ditinggalkan. Segala kegiatan mulai dari sekadar membeli sayur, sekolah, hingga bekerja dilakukan secara jarak jauh, di dalam rumah masing-masing, melalui layar gadget yang didukung oleh jaringan internet.

Bekerja di kantor tentu memiliki banyak keuntungan yang sudah jelas kita lakukan dan dapatkan selama ini. Kemudahan untuk mengelola beberapa orang dan grup menjadi nilai positif dari perspektif manajemen. Interaksi antarmuka karyawan juga dirasa lebih mudah dilakukan tanpa melalui perantara. Bekerja bersama tim dipercaya dapat meningkatkan kreativitas sekaligus mengembangkan kemampuan kolaboratif dan sosial.

Kemampuan untuk berkolaborasi dan bersosial yang bagus dapat membantu seorang individu untuk membangun relasi dengan orang-orang baru. Social network yang luas akan sangat berguna bagi pekerja. Selain itu, bekerja dalam suatu lingkungan yang sama dengan manajemen juga akan meningkatkan tingkat kedisiplinan dan penggunaan waktu yang efektif selama jam kerja. Namun sayangnya, seluruh benefit ini menjadi sulit dicapai ketika pandemi dimulai.

Sebelum pandemi, kita bangun pagi-pagi, mandi, lalu turun ke jalan untuk sampai ke kantor. Tak jarang bagi mereka yang rumahnya di pinggir kota harus bangun bahkan sebelum pagi dan berangkat lebih awal supaya bisa sampai di kantor tepat waktu. Nah, selama pandemi, kegiatan ini berkurang sampai minimal dan sebaliknya menghemat waktu para pekerja hingga maksimal.

Hal ini berdampak cukup positif untuk manajemen waktu si pekerja. Karena mereka tak lagi harus berdesakan di jalanan, waktu ekstra ini bisa mereka gunakan untuk lebih terhubung dengan anggota rumah dan komunitas sekitarnya. Makan sarapan dengan santai bersama keluarga, misalnya, dinilai dapat meningkatkan kesejahteraan mental seseorang. Atau sesederhana bangun lebih siang juga membawa efek yang sama.

Bekerja dari rumah mengeliminasi waktu perjalanan sekaligus waktu yang diperlukan untuk berdandan sesuai dengan kode pakaian. Saya sendiri sangat merasakan keuntungan ini karena sebagai karyawan perempuan saya sering dituntut untuk berdandan dan berpakaian sedemikian rupa. Hal ini sudah saya tinggalkan sejak saya memutuskan untuk mengambil pekerjaan remote work di tahun 2019, setahun sebelum pandemi.

Pilihan saya untuk bekerja dari rumah merupakan pilihan yang tepat bagi saya dan keluarga. Saya lebih mudah mengatur waktu untuk bekerja sekaligus menjalankan tugas dan kewajiban saya di rumah. Saya rasa hal ini dirasakan oleh hampir semua pekerja perempuan seperti saya, di mana beban pekerjaan domestik seringkali dibebankan hanya kepada perempuan.

Selain itu, dengan waktu perjalanan yang terpangkas, saya bisa memiliki banyak pilihan ketika saya memutuskan untuk pindah rumah. Variabel ‘dekat dengan kantor’ tentu sudah tidak perlu diikutkan dalam pertimbangan pindahan. Secara keseluruhan saya sangat terbantu dengan semakin marak dan lumrahnya opsi pilihan bekerja dari rumah.

Hanya satu kendala yang saya rasakan sejak menjalani karir dari kenyamanan di rumah saya sendiri. Yaitu masalah koneksi internet yang seakan tidak pernah kehabisan cara untuk membuat saya kesal. Seringkali masalah ini mengancam deadline dan time table yang telah saya buat. Kedua hal tersebut sangat krusial bagi pekerja jarak jauh seperti saya.

Jika salah satunya saja bermasalah, maka bisa jadi pekerjaan yang sudah disusun akan berantakan. Hingga pada suatu ketika saya mencoba paket smartfren Unlimited Nonstop 6GB. Sejak itu saya bisa mengerjakan pekerjaan saya di internet jadi #NonstopHappyBebasWorry.

Saya tidak takut pulsa terpotong karena dengan paket smartfren Unlimited Nonstop 6GB ini akses internet tetap Unlimited setelah kuota habis dan dijamin anti potong pulsa. Pun, praktis dan efisien karena bisa dipakai 24 jam di semua aplikasi! Cukup dengan merogoh kocek sebesar 30ribu rupiah untuk 30 hari, saya mendapatkan Internet Worry Free, saya tidak perlu was-was deadline terlewat lagi. Plus ditambah bonus kuota lokal hingga 4GB. Praktisnya, saya bisa beli dan top up paket dengan mudah di aplikasi MySmartfren tanpa harus keluar rumah.

Di bulan Ramadan ini, sahur bisa lebih seru dan produktif karena ada GRATIS Unlimited Malam dari jam 1-5 pagi cukup dengan menukar 50 SmartPoin di aplikasi MySmartfren, cuma sampai tanggal 30 April.

Ditambah lagi sebagai pengguna smartfren kita bisa ikutan program smartfren WOW Treasure Hunt yang ada di aplikasi MySmartfren. Semakin sering transaksi semakin besar kesempatan pengguna untuk menang dapetin hadiah-hadiah yang WOW banget mulai dari bonus kuota, dan hadiah Festival Lucky Draw yaitu iphone, TV, emas, tabungan ratusan juta rupiah hingga City Car! Jangan lupa catat periodenya dari tanggal 7 Maret sampai 31 Desember 2022.

Jadi, bagaimana menurut Anda? Apakah Anda lebih memilih untuk bekerja di kantor jika pandemi sudah berlalu? Atau, seperti saya, yang lebih nyaman berkarir dari rumah? Apapun pilihan Anda pastikan itu pilihan terbaik bagi Anda dan keluarga Anda, ya.

sumber : https://www.kompasiana.com/frianyvidya0302/6257a27c3794d15eea482362/work-from-home-norma-yang-baru-atau-cukup-saat-pandemi-saja?page=2&page_images=1

Post a Comment

0 Comments