Seperti Halnya Covid-19, Cuaca Ekstrem Menjadi Kenormalan Baru

KEPALA BESAR: Para aktivis Oxfam mengenakan baju tradisional Skotlandia dengan wajah sejumlah pemimpin negara saat aksi untuk KTT iklim PBB COP26 di Royal Exchange Square, Glasgow (AFP)

 

”Dunia berubah tepat di hadapan kita.” Kalimat itu adalah penggalan Laporan Perubahan Iklim 2021 yang dirilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO). Sayang, perubahan itu tidak menuju ke arah yang lebih baik, tapi justru sebaliknya. Dampak perubahan iklim terpampang nyata.

”Peristiwa (cuaca) ekstrem adalah kenormalan baru,” tegas Profesor Petteri Taalas dari WMO, seperti dikutip CNN. Dia melanjutkan, banyak bukti ilmiah yang memperjelas bahwa cuaca ekstrem adalah imbas perubahan iklim yang disebabkan manusia.

Taalas mencontohkan beberapa peristiwa cuaca ekstrem yang terjadi belakangan ini. Misalnya, di puncak Greenland seharusnya turun salju, tapi kini untuk kali pertama yang turun adalah hujan. Kemudian, gelombang panas yang menyapu Kanada dan sebagian wilayah Amerika Serikat (AS) menunjukkan suhu di atas 50 derajat Celsius. Di Death Valley, California, beberapa kali suhu mencapai 54,4 derajat Celsius.

Sementara itu, debit air hujan yang seharusnya ”jatah” beberapa bulan justru turun dalam hitungan jam di Tiongkok. Banjir bandang pun terjadi. Di negara-negara Amerika Selatan, kekeringan sudah melanda dua tahun berturut-turut. Awal tahun ini di sebagian Texas, AS, suhu tiba-tiba turun minus 13 derajat Celsius dan memicu pemadaman listrik. Ratusan penduduk tewas dan jutaan orang terkurung dalam kegelapan akibat suhu yang membekukan selama beberapa hari.

Laporan WMO juga mengungkapkan, sejak 2002, rata-rata suhu menuju kenaikan 1 derajat Celsius di atas level pra-industri. Itu kali pertama terjadi setelah 20 tahun. Permukaan air laut global juga naik tinggi pada 2021. Mencapai 2,1 mm pada 1993–2002. Pada 2013–2021, kenaikannya mencapai 4,4 mm.

Kenaikan tersebut dipicu lapisan es yang terus mencair karena peningkatan suhu. Jika hal itu terus terjadi, negara-negara kepulauan kecil di Pasifik dan sekitarnya bakal terdampak. Bisa-bisa sebagian negara itu tenggelam.

Laporan WMO tersebut keluar lebih cepat dari jadwal agar bisa dibahas di KTT Perubahan Iklim atau COP26 di Glasgow. ”COP26 harus menjadi titik balik untuk manusia dan planet,” ujar Sekjen PBB Antonio Guterres.

Sumber : https://www.jawapos.com/internasional/02/11/2021/seperti-halnya-covid-19-cuaca-ekstrem-menjadi-kenormalan-baru/

Post a Comment

0 Comments