Fase Relaksasi Pandemi, IDI: Pentingnya Kemampuan Deteksi Diri!

Protokol kesehatan akan percuma jika tidak dibarengi dengan tes dan pelacakan Covid-19. ( Pixabay.com)

 

Meski saat ini angka kasus baru Covid-19 di Indonesia sudah menurun, tetapi Indonesia masih dalam status pandemi sehingga perlu adanya kerja sama dari berbagai pihak untuk memerangi kondisi tersebut.

Masyarakat diharap untuk tetap disiplin, tidak abai dalam menjalankan protokol kesehatan, serta berusaha untuk meningkatkan keehatan fisik, mental, dan sosial.

Hal itu juga yang disampaikan oleh Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia, M. Adib Khumaidi dalam Dailog Produktif Media Center Forum Merdeka Barat 9 (FMB 9), KPCPEN yang menyatakan bahwa memang saat ini pandemi di Indonesia dalam fase relaksasi.

Meski demikian, tetap penting melakukan pencegahan penularan, percepatan vaksinasi, dan membiasakan diri dengan perilaku baru yang harus diadopsi guna perlindungan kesehatan di masa pandemi, salah satunya adalah kemampuan untuk deteksi diri.

“Yang penting dipahami masyarakat adalah kesadaran dan deteksi diri,” ujar Adib. Kedua hal tersebut, yakni awareness (kesadaran) dan self assessment (deteksi diri) adalah bagian dari upaya kesehatan sosial, yang berdampingan sama pentingnya dengan kesehatan fisik dan mental.

“Bila kita ingin menjaga keluarga, maka mulai dari diri kita dulu. Keluarga ikut, maka kita dapat turut melindungi masyarakat,” jelasnya.

Bila kesadaran sudah muncul, katanya, maka fungsi pengawasan internal sudah tumbuh dalam tiap individu. Di sinilah terjadi perubahan perilaku masyarakat untuk beradaptasi terhadap Covid-19.

“Adaptasi kebiasaan baru termasuk dengan menghindari hal-hal yang memungkinkan kita terpapar,” tambah Adib.

Agar tidak terjadi lonjakan kasus, menurut Adib ada beberapa hal dapat dilakukan. Yakni 3M yang ditingkatkan jadi 5M (Memakai masker, Menjaga jarak, Mencuci tangan, Menjauhi kerumunan, Membatasi mobilitas), memperhatikan ventilasi-durasi-jarak saat beraktivitas untuk mengurangi risiko terpapar, 3T (tracing, testing, treatment), serta vaksinasi.

“Masyarakat jangan lengah, tetap jaga protokol kesehatan. Jaga kesehatan dan daya tahan tubuh. Sampaikan ke semua pihak, pandemi belum selesai. Bila ada gejala COVID-19, segera lapor,” sambungnya menambahkan.

Anggota Satgas Penanganan COVID-19 Sub Bidang Mitigasi, Falla Adinda juga menyoroti pentingnya kemampuan setiap individu untuk menilai diri sendiri ( self assessment) sebagai upaya melindungi diri dari risiko terpapar virus di masa pandemi.

“Semakin tinggi jam terbang kita dalam pandemi, akan semakin baik pula kemampuan kita menilai situasi sekitar,” kata Falla yang juga seorang dokter ini.

Hal ini misalnya, menjauhi tempat yang berpotensi adanya penularan atau menilai kapan aman untuk membuka masker.

Masyarakat juga diharapkan sadar bahwa salah satu memicu pertambahan kasus adalah peningkatan mobilitas, sehingga penting bagi masyarakat untuk patuh dengan aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah.

Sebelumnya diketahui bahwa pemerintah sudah meniadakan cuti Nataru demi mencegah mobilitas yang berlebihan.

Di sisi lain, upaya-upaya ini tidak hanya untuk kesehatan fisik masyarakat tetapi juga upaya untuk memperjuangkan kesehatan mental.

Co Founder/Director Pijar Psikologi, Regis Machdy menjelaskan, gangguan kesehatan mental secara umum juga depresi meningkat hampir 6% selama pandemi, dengan beragam alasan seperti kehilangan pekerjaan, kerabat, atau kehidupan yang berubah total.

Karena itu, pihaknya berupaya memberikan edukasi dan ruang yang aman bagi masyarakat, untuk berkonsultasi serta bercerita terkait kesehatan mental.

Regis menekankan pentingnya memiliki pola pikir optimis bahwa sebagai spesies manusia kita telah menghadapi bermacam cobaan, sehingga kita pasti dapat selamat.

Sumber : https://www.sonora.id/read/422973972/fase-relaksasi-pandemi-idi-pentingnya-kemampuan-deteksi-diri

Post a Comment

0 Comments