Menilik Eksistensi dan Animo Konser Virtual di Era New Normal

Ilustrasi kolaborasi musisi saat konser virtual.(Shutterstock/Master1305)

 

Sudah lebih dari dua tahun pandemi Covid-19 melanda hampir seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia. Selama itu pula, berbagai kegiatan berformat tatap muka, seperti konser musik, absen digelar.

Hal tersebut dilatarbelakangi kebijakan physical distancing atau jaga jarak fisik yang diterapkan selama pandemi merebak. Alhasil, banyak orang mengurangi aktivitas di luar ruangan demi menghindari kerumunan atau tempat ramai agar tidak terpapar virus corona.

Di Indonesia sendiri, physical distancing diterapkan sejak Maret 2020. Selain berdampak pada penyelenggaraan konser musik, aturan ini juga memberhentikan operasional sejumlah pusat perbelanjaan dan perkantoran, serta fasilitas yang mengundang keramaian lainnya.

Guna mendobrak keterbatasan akibat pandemi sekaligus menjaga hubungan dengan para penggemar, banyak musisi mengubah format konser musik tatap muka menjadi virtual.

Transformasi tersebut berjalan seolah tanpa kendala berkat kecanggihan teknologi digital saat ini. Bahkan, hanya dengan memanfaatkan fitur siaran langsung pada platform media sosial, musisi sudah dapat menghibur penggemarnya.

Konser Virtual juga menawarkan pengalaman yang lebih personal. Sebab, musisi sering menyempatkan diri untuk membaca komentar dan menjawab pertanyaan penggemarnya saat acara berlangsung.

Dari segi visual, konser virtual tak kalah spektakuler dengan konser live. Bahkan, beberapa penyelenggara sengaja bekerja sama dengan penyedia atau perusahaan teknologi digital profesional agar bisa memberikan kesan imersif bagi penonton.

Animo masyarakat terhadap konser virtual rupanya tak bisa dibilang sedikit. Dihimpun dari berbagai sumber, beberapa konser virtual mampu menyedot perhatian lebih dari 10 juta penonton.

Bagi musisi, antusiasme seperti itu memantik semangat untuk berinovasi dan lebih mengeksplorasi kreativitas. Dengan begitu, mereka dapat menyuguhkan aksi panggung ciamik dan berkesan bagi penonton.

Eksperimen melahirkan banyak perubahan

Berkat eksperimen yang dilakukan selama pandemi, tak sedikit musisi akhirnya menggeluti genre baru dalam karyanya. Begitu pun saat perilisan. Banyak dari mereka yang beralih ke rilisan kolaboratif, baik itu album maupun single.

Selain itu, skill dan gaya bermusik musisi menjadi semakin unik setelah melakukan berbagai inisiatif selama pandemi.

Konser virtual selama pandemi dianggap sebagai sebuah fenomena. Pasalnya, unsur kebersamaan dalam acara ini begitu kental. Meski acara digelar dari jarak jauh, musisi tetap dapat berinteraksi dengan para penggemar.

Bahkan, musisi mampu menciptakan kedekatan yang tidak bisa dilakukan lewat konser live biasa. Format ini pun dapat mengikis jarak yang tercipta akibat physical distancing.

Interaksi yang terjalin antara musisi dan penggemar membantu mengurangi burnout yang lahir dari kepenatan serta kejenuhan situasi pandemi.

Nah, melihat berbagai kemenarikan konser virtual, tak ada alasan bagi kamu untuk terus-terusan galau menantikan konser live diadakan kembali, sekalipun pemerintah tengah merencanakan hal tersebut.

Demi kebaikan dan keamanan bersama, cobalah menyaksikan konser virtual. Sebab, pengalaman yang ditawarkan acara ini belum tentu bisa ditemukan pada konser tatap muka.

Konser virtual tidak mengharuskan kamu melakukan sederet usaha ekstra selayaknya datang ke konser live, seperti menghadapi kemacetan dan antrean tiket.

Kamu dapat menggunakan pakaian nyaman sesuka hati dan menikmati konser virtual dalam berbagai posisi apa pun. Paling-paling, kamu hanya perlu menyiapkan koneksi internet cepat dan camilan untuk menunjang kenyamanan menyaksikan acara tersebut.

Nah, bagi yang merindukan aksi panggung musisi favorit, kamu bisa cek laman ini untuk melihat konser virtualnya.

Sumber : https://www.kompas.com/hype/read/2021/10/19/084800666/menilik-eksistensi-dan-animo-konser-virtual-di-era-new-normal

Post a Comment

0 Comments