Human Cloud dan Gig Economy Mulai Marak di Indonesia

 

EventCerdas di minggu lalu mengangkat tema menarik TENAGA IT MASA DEPAN. Kali ini dilakukan secara hybrid seminar di lokasi kegiatan Bazaar IT di Bekasi Cyber Park. Hadir dalam kesempatan ini diantaranya Soegiharto Santoso (Hoki) selaku Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (APTIKNAS), Ravi Melwani selaku CEO JASA CONNECT, Fanky Christian , Ketua DPD DKI JAKARTA APTIKNAS juga sekaligus menjadi moderator, serta penanggap Satria Gunayoman, Bidang Kerjasama DPD DKI JAKARTA APTIKNAS. 

Di tengah area pameran Bazaar IT, para narasumber mengangkat tren terkait dengan dunia Teknologi Informasi Indonesia. Di masa pandemi, tren penggunaan IT meningkat tajam. 

Transformasi digital juga memang menjadi salah satu strategi pemerintah Indonesia untuk bisa bersaing secara global. Hal menarik yang diangkat Hoki adalah tingginya peluang digital services yang meningkat dari tahun ke tahun, dengan fokus di Data Center, Cloud dan BPO (Business Process Outsourcing). Maka jelas peluang di bidang jasa IT sangat besar, baik dalam skala global ataupun Indonesia.

Ravi Melwani juga mengungkapkan hal yang sama, dengan istilah Human Cloud dan Gig Economy. Human Cloud sendiri adalah industri teknologi yang menggambarkan platform tenaga kerja dan staf online digital. Hal ini muncul karena semakin banyak orang yang memilih untuk bekerja secara fleksibel dan efisien. 

Maka dalam hal ini, para pemberi kerja pun menggunakan jasa human cloud. Ciri human cloud adalah pekerjaan diselesaikan secara digital, pembayaran pun dilakukan secara digital, waktu pekerjaan fleksibel, dan pekerja merupakan pekerja tidak tetap. Ravi juga menjelaskan 3 industri yang telah terdisrupsi diantaranya logistik, transportasi dan delivery.  Bidang yang banyak terkait human cloud ini umumnya seperti programmer. 

Gig Economy ini sistem tenaga kerja bebas yang hanya mengontrak pekerja dalam waktu tertentu.  Ada keuntungan dari penerapan gig economy ini, karena tentunya pemberi kerja tidak harus menggaji rutin, melainkan berdasarkan tugas (task) dan capaian tertentu, tidak perlu memikirkan hal lain, seperti tanggungan karyawan pada umumnya.

Fanky Christian mengangkat tren tenaga kerja yang ada semasa pandemi, khususnya data dari LinkedIn dan Jobstreet / Jobdb. Data ini menunjukan semakin banyak pekerjaan digital yang diperlukan perusahaan Indonesia, meskipun tetap ada tren perekrutan yang tinggi di beberapa sektor seperti fintech, ecommerce, finansial dan telco. Disampaikan juga adanya skill yang harus dimiliki dan dikembangkan oleh generasi pencari kerja Indonesia agar bisa bersaing secara global. 

Terakhir, selaku penanggap Satria Gunayoman yang aktif juga sebagai asesor dan terlibat dalam kegiatan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) menyambut baik diskusi ini. 

Human cloud dan gig economy terutama di sektor jasa IT memang tidak dapat dihindarkan lagi. Pemerintah Indonesia sendiri telah melakukan definisi kompetensi pekerjaan terkait IT hingga 460 jenis posisi dengan fokus 94 posisi terkait IT. 

Dan sangat penting, meskipun menggunakan pendekatan human cloud serta gig economy, si pekerja lepas ini tetap mengikuti standarisasi yang ada, terutama yang telah dibuat dalam SKKNI / KKNI, oleh karena itu peran LSP tetap dapat dilibatkan untuk memastikan kualitas pekerja human cloud. 

Semua pembahasan ini dipandu oleh Amanda Putri Santoso dan Apul sehingga menjadi lebih menarik dan informatif untuk diikuti, Bagi anda yang mau mengikuti pembahasan lengkapnya dapat mengikuti video berikut ini.

APTIKNAS sendiri telah bekerjasama dengan JASACONNECT meluncurkan program APPTIKNAS. Aplikasi diharapkan menjadi platform untuk jasa IT Indonesia.

Nantikan kegiatan kami selanjutnya dalam upaya terus membangun kompetensi manusia Indonesia terkait TIK dalam beragai kegiatan EventCerdas. Human Cloud dan Gig Economy sudah tidak dapat dihindarkan lagi, tinggal kita mengikuti dan menggunakan hal ini dengan baik dan tepat.

sumber : https://www.kompasiana.com/startmeup/6174bb7306310e58ec4edde4/human-cloud-dan-gig-economy-mulai-marak-di-indonesia

Post a Comment

0 Comments