Syarat Perjalanan Selama Pandemi Disebut Akan Terus Berlaku

Foto: ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso

Jakarta - Juru Bicara Kementerian Perhubungan Adita Irawati mengatakan bahwa persyaratan perjalanan yang saat ini bersifat temporer bisa jadi akan permanen. Adapun hal ini disesuaikan dengan perkembangan situasi dan merujuk pada aturan yang berlaku.

"COVID-19 membuat kita harus siap beradaptasi terhadap kebiasaan-kebiasaan baru, dan ini perlu upaya sosialisasi serta edukasi," ujar Adita dalam keterangan tertulis, Rabu (15/9/2021).

Menurut dia, regulasi untuk sektor transportasi saat pandemi tidak banyak mengalami perubahan. Namun, hal ini tidak berlaku untuk transportasi udara.

"Untuk sektor transportasi, aturan di Indonesia tergolong ketat, karena pengguna transportasi umum diwajibkan tes Antigen atau PCR serta ada skrining vaksinasi," tuturnya.

Dalam penyusunan kebijakan, ia mengaku pihaknya berkoordinasi dengan beberapa kementerian terkait, juga lembaga dan unsur-unsur yang berkepentingan lainnya. Menurutnya, pemerintah sebagai regulator tidak dapat bergerak sendirian untuk memastikan keamanan para pengguna transportasi.

"Kita butuh dukungan dari operator yang berinteraksi langsung dengan para penumpang untuk mengimplementasikannya di lapangan. Juga TNI, Polri, seluruh pihak terkait, serta masyarakat itu sendiri. Selain itu, idealnya, ada kesadaran dari masyarakat sebagai pelaksana kegiatan mobilitas baik dengan transportasi umum maupun pribadi. Karena penerapan sanksi berpotensi untuk dilanggar," tambahnya.

Sementara itu, Sekjen Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Bayu Sutanto menambahkan bahwa sosialisasi dan edukasi kebiasaan baru harus terus digalakkan dan tidak hanya menyasar masyarakat sebagai calon penumpang.

"Edukasi, sosialisasi, peningkatan literasi secara masif harus dilakukan juga untuk petugas, operator, dan semua lini. Tujuannya agar semua pihak paham, terbiasa, dan lebih mudah mengikuti aturan-aturan yang ada secara optimal. Misalnya, dalam pemanfaatan aplikasi PeduliLindungi atau penggunaan alat deteksi. Jangan sampai justru menjadi alasan munculnya kerumunan," ujarnya.

Terkait hal ini, VP Corporate Secretary KAI Commuter Line, Anne Purba, selaku operator transportasi menyatakan, selain menggencarkan upaya edukasi, pihaknya berusaha memberikan layanan nyata sebagai implementasi aturan baru tersebut kepada masyarakat. Sebagai contoh, untuk mendorong penumpang patuh protokol kesehatan dan vaksinasi, Anne mengaku menyediakan masker serta membuka sentra vaksin di stasiun.

"Penggunaan desinfektan dan fumigasi yang sudah ada sejak sebelum pandemi kita perkuat dengan layanan kebersihan yang secara berkala mensucihamakan tempat-tempat yang sering disentuh penumpang. Pada jam sibuk, beberapa jendela dibuka agar sirkulasi udara lebih baik. Kami juga menyediakan tambahan gerbong agar kereta dapat mengangkut semua penumpang dengan tetap memperhatikan regulasi kapasitas dan menjaga jarak," beber Anne.

Menurut Anne, Kereta Rel Listrik (KRL) yang mereka operasikan masih terus dimanfaatkan sebagai sarana mobilitas masyarakat saat pandemi. Oleh karena itu, pihaknya harus selalu siap melakukan rekayasa operasional sesuai kondisi dan kebutuhan.

"Di rumah lebih baik, tapi kalau harus bepergian, ayo patuhi protokol kesehatan," ajaknya.

Pengamat Transportasi Alvin Lie menegaskan, masyarakat harus bersiap terhadap penerapan berbagai peraturan yang akan berlanjut. Ia mengimbau semua pihak untuk tidak lengah, tidak jemawa, serta tetap saling menjaga dalam menyikapi membaiknya penanganan COVID-19.

Penerapan peraturan dalam jasa transportasi, menurutnya, tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, melainkan juga partisipasi masyarakat dan petugas di lapangan agar bersifat konsisten.

"Komunikasi pemerintah dan masyarakat perlu dilakukan lebih efektif dan intensif, terutama untuk menghadapi berita-berita hoaks yang menyesatkan, serta membangun kepercayaan masyarakat bahwa program-program ini dirancang untuk melindungi mereka," tutur Alvin.

Post a Comment

0 Comments