Belajar dari Rusia, KPU Siapkan Skenario Pemilu 2024 di Tengah Pandemi

Ilustrasi pemilu. (Foto: Antara/Nyoman Budhiana)

 

Jakarta - Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman mengatakan pihaknya mempersiapkan dua skenario untuk pelaksanaan Pemilu 2024 dan Pilkada Serentak 2024. Yakni, skenario pemilu normal dan skenario bila pandemi Covid-19 masih terjadi.

"Untuk menghadapi situasi pandemi, KPU dan bangsa ini sudah memiliki pengalaman Pilkada 2020 yang dilaksanakan dengan protokol kesehatan ketat. Ini bahan informasi kita kenapa pemilu harus serentak, dan mengantisipasi penyelenggaraan jika masih terjadi pandemi," kata Arief.

Hal itu disampaikannya dalam webinar bertajuk Sukses Pemilu dan Pilkada Serentak Tahun 2024 di Tengah Pandemi Covid-19, yang digelar Masyarakat Ilmu Pemerintahan Indonesia, Selasa (28/9/2021).

KPU sendiri mengusulkan, berdasar berbagai perhitungan dan pertimbangan termasuk aturan mengenai tahapan, bahwa pemilu 2024 akan dilaksanakan pada 21 Februari 2024. Namun pemerintah baru mengeluarkan usulan agar pemilu dilaksanakan pada Mei 2024.

"Nanti kita akan bertemu dan membahasnya bersama," imbuhnya.

Arief lalu menjelaskan rincian alasan kenapa KPU memilih Februari 2024.

Hanya saja, dia menekankan bahwa tanggal apapun yang dipilih, semua punya karakteristik dan tantangan sendiri.

"Apa yang beda jika 2024 masih ada Covid? Tentu pasti harus dilakukan dalam kondisi new normal, harus terapkan protokol kesehatan yang melibatkan banyak stakeholder. Koordinasi dengan BNPB dan Gugus Tugas Satgas covid, Kemenkes tentu akan lebih intensif di luar dengan DPR dan TNI-Polri," urainya.

Dari pengalaman pilkada 2020 bisa dipetik sejumlah pelajaran seperti soal ketersediaan APD, anggaran pasti akan bertambah, sosialisasi agar pemilih tak khawatir, dan lain-lain.

"Dalam pelaksanaannya, intinya mempertemukan banyak pihak dalam sikap masif. Kampanye dilaksanaakan melalui media sosial dan daring. Misalnya. Bisa saja diadopsi untuk diterapkan d pemilu 2024," katanya.

Dia lalu membeberkan hasil kunjungan lapangan sebagai pemantau yang diundang oleh KPU Rusia yang baru melaksanakan pemilu.

Di Rusia, ada tiga hal yang dilakukan untuk pemilu di masa pandemi.

Pertama mereka menggunakan internet voting yang berbeda dengan e-voting, di mana pemilih memberikan pilihannya masih manual dengan memberi tanda centang, silang, atau lingkaran, bukan mencoblos. Di 6 wilayah pilot project, diterapkan internet voting, di mana masyarakat yang tak mau hadir di TPS karena takut Covid, bisa memberikan pilihan lewat internet.

"Mereka menerapkannya tak di semua wilayah, namun pilot project di 6 region. Ini menurut saya contoh bagi pembuat UU, untuk bisa mempertibangkannya. Dari 85 region, Rusia hanya buat di 6 region. Mereka yang tidak mau memilih menggunakan hak pilihnya ke TPS, bisa melalui internet voting. Ada juga dropbox," kata Arief.

Kedua, Rusia menghindari penumpukan di TPS. Pengalaman Pilkada 2020 di Indonesia, KPU mengatur pemilih untuk datang pada jam tertentu di hari yang sama. Di Rusia, mereka tak hanya atur di jam tertentu tapi dilakukan di hari berbeda.

"Karena mereka melaksanakan pemilu selama 3 hari," imbuhnya.

Ketiga, Rusia juga menerapkan penggunaan alat pelindung diri seperti hazmat dan hand sanitizer. Dalam hal ini, menurut Arief, Indonesia jauh lebih lengkap.

Sumber : https://www.beritasatu.com/politik/833789/belajar-dari-rusia-kpu-siapkan-skenario-pemilu-2024-di-tengah-pandemi

Post a Comment

0 Comments