Potensi Blended Learning dalam Meningkatkan Keterampilan 4C pada Mata Pelajaran Fisika di Era New Normal

Memasuki awal Maret 2020, Indonesia dikejutkan dengan penyakit menular yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 yang kita kenal dengan nama COVID-19. Penyakit ini dapat menyebabkan gangguan sistem pernapasan, mulai dari gejala ringan seperti flu, demam, hingga infeksi paru-paru.


Dengan melihat situasi dan kondisi seperti ini, Presiden Joko Widodo mengambil tindakan melalui penetapan Keppres RI No. 12 Tahun 2020 tentang bencana non-alam yang diakibatkan oleh penyebaran COVID-19 sebagai bencana nasional. Oleh karena itu, untuk menekan penyebaran COVID-19 dan jumlah korban yang terus meningkat, pemerintah mengambil kebijakan agar semua kegiatan seperti bekerja, beribadah, dan belajar dilakukan di rumah sampai situasi dapat dikatakan normal kembali.

COVID-19 telah menyebabkan perubahan di berbagai sektor, termasuk pendidikan. Hal ini bisa terlihat dari terjadinya pergeseran cara belajar oleh guru dan peserta didik yang semula mungkin hanya menerapkan metode diskusi di kelas, dan melakukan praktek di laboratorium, telah berganti menjadi pembelajaran daring (dalam jaringan) yang dapat di akses kapan dan dimana saja.

Memasuki era new normal, pembelajaran di sekolah dilakukan secara 2 tahap, yaitu tatap muka dan juga online. Pembelajaran seperti ini dikenal dengan nama blended learning. Isitilah blended learning digunakan untuk mendeskripsikan situasi pembelajaran dengan menggabungkan pembelajaran secara tatap muka dan daring. Saat ini, telah banyak platform daring atau aplikasi yang dapat digunakan oleh guru ketika menjalankan blended learning seperti e-learning, zoom, google classroom, google suite, dan whatsapp.

Pembelajaran di masa pandemi telah menguatkan pernyataan akan kebutuhan teknologi dan internet di berbagai sektor kehidupan. Tentu saja ini bukanlah hal yang mudah, tetapi kita harus mampu hadapi untuk menyongsong masa depan yang tak terduga dan berubah dengan cepat. Era seperti ini juga telah kita rasakan ketika memasuki revolusi industri 4.0 dimana berbekal hasil belajar saja tidak cukup untuk bisa bersaing di masa depan.

Oleh karena itu, ini sudah menjadi tugas oleh guru dan tenaga kependidikan ke depan melakukan inovasi agar terciptanya lulusan yang memiliki keterampilan abad ke-21, yaitu mampu berpikir kritis, membangun komunikasi dan kerja sama yang baik, dan juga kreatif. Keterampilan inilah yang dikenal dengan istilah 4C (Critical Thinking, Communication, Collaboration, Creativity). Hal tersebut juga senada dengan yang disampaikan oleh Bapak Supriano selaku Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan, Kemendikbud pada acara pemilihan guru dan tenaga kependidikan berprestasi dan berdedikasi tingkat nasional yang diselenggarakan tanggal 14 s.d. 19 Agustus 2019 di Jakarta. Pada kesempatan tersebut, Bapak Supriano menekankan pentingnya 4C untuk menghadapi abad 21.

Berpikir kritis saat ini menjadi salah satu kecakapan hidup (life skill) yang perlu dikembangkan melalui proses pendidikan. Melalui kemampuan berpikir, seseorang akan dapat mencermati dan mencari solusi atas segala permasalahan yang terjadi. Oleh karena itu, dalam era revolusi industri 4.0 keterampilan berpikir menjadi keterampilan esensial yang harus dimiliki oleh setiap lulusan pada setiap jenjang pendidikan. Berikutnya komunikasi.

Komunikasi mencakup pemahaman akan informasi yang diberikan dan bagaimana mengekspresikan ide atau gagasan secara efektif. Tidak hanya kemampuan berpikir kritis dan komunikasi, tetapi peserta didik juga harus cakap dalam bekerja sama atau kolaborasi. Menurut National Education Association, kolaborasi berarti kemampuan untuk bekerja secara efektif, fleksibel, dan adil untuk menyelesaikan tugas secara kolektif. Keterampilan 4C selanjutnya yaitu kreatif, Kreativitas dapat didefinisikan sebagai kemampuan menciptakan suatu obyek atau konsep baru, atau menyempurnakan produk yang sudah ada agar semakin menarik.

Salah satu mata pelajaran di SMA yang erat kaitannya dengan keterampilan 4C adalah fisika. Fisika merupakan salah satu cabang ilmu sains yang digunakan untuk memahami dan menjawab fenomena yang terjadi pada alam. Meskipun pembelajaran fisika dilakukan secara blended learning, hal ini tidak membuat keterampilan 4C menjadi sulit untuk dicapai. Hal ini terbukti dari berbagai penelitian yang telah dilakukan.

Penelitian yang dilakukan oleh Suji Ardianti pada tahun 2019 dengan judul "Efektivitas Blended Learning Berbasis Pendekatan STEM Education Berbantuan Schoology untuk Meningkatkan Critical Thinking Skill pada Materi Fluida Dinamis" menunjukkan bahwa blended learning memiliki pengaruh dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa dengan skor rata-rata hasil belajar mencapai angka 76.

Selanjutnya, dengan menggunakan metode blended learning ini, keterampilan kolaborasi dan komunikasi dapat terasah. Salah satunya model flipped blended learning, komunikasi dapat dilakukan secara tatap muka dan interaksi online melalui chat dan forum. Guru juga bisa menambahkan fitur projek agar peserta didik dapat bekerjasama menghasilkan suatu produk (Dr. (c) Unung Verawardina, M.Pd).

Selain itu, Blended learning juga efektif dalam meningkatkan kreativitas peserta didik melalui kegiatan presentasi online, sehingga mendorong setiap kelompok untuk menghasilkan karya yang lebih baik (Tsai).

Meskipun pembelajaran dilakukan saat pandemi, hal ini tidak menghalangi ketercapaian 4C sebagai salah satu keterampilan yang dibutuhkan pada abad 21. Tetapi, perlu diingat, platform blended learning hanya perpanjangan dari metode belajar pada zaman sekarang, terkait kesuksesan tetap berada pada keteguhan kita untuk terus menggali ilmu dan berinovasi demi kemajuan bangsa.

sumber : https://www.kompasiana.com/yunita85047/60d29644bb44863e93041783/potensi-blended-learning-dalam-meningkatkan-keterampilan-4c-pada-mata-pelajaran-fisika-di-era-new-normal?page=all#section1

Post a Comment

0 Comments