Dilema Pendidikan di Masa Covid-19

Sebagaimana diketahui bahwasannya dunia saat ini tengah dilanda wabah COVID-19, sebuah penyakit yang pertama kali muncul di Wuhan, China awal Desember 2019 (Lie et al, 2020). Setelah China, diikuti Italia dengan jumlah kasus tertinggi sejauh ini (Gandolfini et al., 2020).


Penyakit ini pertama menyerang sistem pernafasan manusia dan menunjukkan beberapa gejala di tubuh orang yang terjangkit, diantaranya demam, batuk kering, kelelahan, dan gejala sistemik lainnya (Chen et al., 2020). Penyakit yang menular dengan cepat ini mendesak setiap pemimpin negara untuk mengeluarkan berbagai kebijakan untuk menekan penyebaran wabah COVID-19 agar tidak semakin meluas.

Beberapa negara memberlakukan lockdown dan work from home supaya wabah tersebut segera berhenti meskipun harus mengorbankan beberapa. Ada juga beberapa negara seperti Indonesia yang memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) per wilayah tergantung tingkat keparahan wabah (Muhyiddin, 2020).

Harapannya masyarakat tidak berkumpul untuk sementara waktu. Alhasil metode ini berhasil di beberapa negara, akan tetapi metode tersebut tidak efektif di beberapa negara lainnya, karena kurangnya kesadaran masy kat akan mengikuti protokol kesehatan.

Hal ini berlaku di Indonesia yang mana masih banyak masyarakat yang kurang mempedulikan dampak COVID-19 Akibatnya memaksa pemerintah mengeluarkan kebijakan baru, yaitu new normal, sebuah kebijakan dimana masyarakat hidup kembali ke kondisi semula dengan tetap menerapkan protokol kesehatan dan dipandu secara terpusat oleh Kementerian Kesehatan RI (Telaumbanua, 2020).

Rencana ini pun menjadi kontroversial, banyak masyarakat yang tidak setuju dengan kebijakan ini, namun tidak sedikit pula yang mendukung Kebijakan pembatasan sosial yang lebih dulu diterapkan bisa dibilang kurang efisien dikarenakan menghambat aktivitas di berbagai sektor Dengan melihat data yang dilansir detik.com (2020) jumlah penambahan pasien terjangkit COVID-19 kurang lebih 1.000 orang di setiap harinya, jawabannya sangat jelas bahwasannya mengganti kebijakan ke new normal bukanlah keputusan yang tepat.

Lantas bagaimana jika melihat sektor pendidikan kita? Pertama hal yang utama sebelum penerapan kebijakan new normal adalah sosialisasi protokol kesehatan secara eksplisit. Dalam dunia pendidikan, khususnya perguruan tinggi, pemenuhan protokol kesehatan ini sangatlah krusial dikarenakan universitas merupakan tempat di mana berkumpulnya banyak peserta didik dari berbagai daerah, sehingga resiko penyebaran COVID-19 sangatlah besar.

Sedangkan sebagaimana kita ketahui bahwa mempersiapkan peserta didik agar selalu terbiasa menerapkan protokol kesehatan dalam kegiatan sehari-hari bukanlah hal yang mudah.

Untuk itu, perlu adanya sinergi kerja antara pimpinan tertinggi sampai tingkat paling bawah sehingga protokol kesehatan ini dapat benar-benar dijalankan dengan baik. Hal ini ditujukan agar nantinya saat new normal tidak memerlukan satgas COVID-19 yang selalu mengontrol perilaku peserta didik.

Karena pandemi COVID-19 yang tak kunjung usai, didasarkan pada surat edaran pemerintah Nomor 4 Tahun 2020 tentang pelaksanaan kebijakan pendidikan dalam masa darurat penyebaran virus Corona, maka Belajar dari Rumah (BDR) dilaksanakan melalui pembelajaran daring (dalam jaringan).Sebagai warga negara yang baik,kita tentu harus menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang diambil oleh pemerintah.

Penerapan pola pembelajaran daring atau pembelajaran jarak jauh tentu sangat berbeda dengan pembelajaran tatap muka.Oleh karena itu,semua pihak,baik siswa, guru, maupun orang tua harus bisa beradaptasi dengan kebiasaan baru saat pandemi ini. Pola belajar jarak jauh menuntut teknologi yang mumpuni untuk menciptakan suasana belajaryang baik sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara sempurna.Dalam pelaksanaannya, pola belajar jarak jauh membutuhkan kerja sama antara pihak sekolah dan orangtua dirumah.

Sebagaimana kita ketahui, saat ini kita sudah memasuki era teknologi digital. Oleh karena itu, kebijakan pembelajaran melalui metode daring(dalam jaringan)bukanlah hal yang mengejutkan. Metode pembelajaran daring sangat bermanfaat bagi siswa, terutama saat menghadapi darurat pandemi seperti saat ini. Dengan metode pembelajaran daring, proses belajar mengajar tetap dapat dilaksanakan.

Pada mulanya, konsep Pembelajaran online atau Jarak Jauh dirancang untuk mengatasi kesenjangan pendidikan yang terjadi di Indonesia. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) diharapkan dapat mengatasi masalah kesenjangan pemerataan kesempatan, peningkatan mutu, relevansi, dan efisiensi dalam bidang pendidikan yang disebabkan oleh berbagai hambatan seperti jarak, tempat, dan waktu.

Untuk itu, penyelenggaraan Pembelajaran online atau Jarak Jauh (PJJ)harus sesuai dengan karakteristik pembelajar, tujuan pembelajaran dan proses pembelajaran. Dengan demikian, tujuan Pembelajaran online atau Jarak Jauh (PJJ) adalah untuk memberikan kesempatan pendidikan kepada warga masyarakat yang tidak dapat mengikuti pembelajaran konvensional secara tatap muka. Setidaknya ada empat (4) keuntungan atau manfaat kegiatan pembelajaran melalui internet, yaitu (Munir, 2009):

1. Meningkatkan kadar interaksi pembelajaran antara pembelajar dengan pengajar (enhance interactivity)
2. Memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran dari mana dan kapan saja (time and place flexibility)
3. Menjangkau pembelajar dalam cakupan yang luas (potential to reach a global audience)
4. Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran (easy updating of content as well as archivable capabilities).

Dalam sebuah hasil penelitian terbaru mengenai praktek kegiatan Pembelajaran online atau Jarak Jauh (PJJ) di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri Unggulan M.H Thamrin Jakarta Timur, disebutkan bahwa dengan diterapkannya kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dari sekolah pada beberapa bulan ke belakang, terdapat fenoma baru yang terjadi yaitu: pertama, kesadaran yang tinggi dari orangtua akan sulitnya menjalankan profesi guru; kedua, meningkatnya kesadaran akan pendidikan ke orangtuaan yang selama ini banyak terabaikan; ketiga, proses pendidikan yang lebih multiliterat; keempat, meningkatnya pemahaman guru akan kondisi anakdan keluarganya; kelima, meningkatnya kesadaran literasi digital bagi guru, orangtua, dan siswa; dan keenam, guru dan siswa lebih banyak mengekplorasi materi-materi di luar buku paket (Jusuf, dkk., 2020).

Meskipun bermanfaat, penerapan pembelajaran daring masih menemui banyak kendala. Salah satunya, metode daring belum bisa diterapkan di satuan pendidikan di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).

Terbatasnya pemerataan teknologi membuat daerah 3T kesulitan mengakses jaringan internet. Karena itulah, siswa-siswa di daerah tersebut tidak dapat melaksanakan pembelajaran daring atau pembelajaran dengan media lainnya. Selain itu, masih banyak satuan pendidikan yang belum familier dengan perkembangan informasi dan komunikasi. Akibatnya,penerapanpembelajaransecara daring tidakdapat terlaksana dengan baik.

Namun dalam prakteknya, proses kegiatan Pembelajaran online atau Jarak Jauh (PJJ) tersebut, tentu tidak semua peserta didik dan para tenaga pengajar langsung terbiasa dengan kebiasaan baru tersebut, mengingat bahwa penggunaan alat teknologi bagi sebagian besar wilayah di pelosok negeri belum merata.

Berikut ini beberapa hambatan yang terjadi dalam pembelajaran dengan metode daring. Pertama adalah terbatasnya penguasaan teknologi informasi oleh guru dan siswa. Tidak semua guru di Indonesia memahami penggunaan teknologi, terutama para guru yang usianya di atas 50 tahun. Hal itu tentu menjadi kendala ketika mereka harus menggunakan media daring. Selain guru, siswa pun, terutama siswa kelas rendah, tentu belum dapat menggunakan teknologi dengan baik.

Kedua, kurang memadainya sarana dan prasarana. Untuk pelaksanaan pembelajaran daring, diperlukan perangkat pendukung teknologi yang harganya tentu tidak murah, misalnya laptop atau telepon pintar. Tidak semua siswa berasal dari keluarga mampu yang bisa menyediakan perangkat yang dibutuhkan. Bahkan, masih banyak juga guru yang memiliki keterbatasan ekonomi. Hal itu dapat menghambat terlaksananya pembelajaran daring saat pandemi Covid-19 ini.

Ketiga, terbatasnya akses internet.Saat ini belum semua daerah di Indonesia dapat menikmati jaringan internet.Untuk daerah yang berada di pelosok pedesaan dan daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar), jaringan internet tentu merupakan hal yang sulit ditemukan. Bahkan, di daerah yang sudah ada internet pun, belum semua lembaga pendidikan dapat menikmatinya. Kalaupun ada jaringan internet, akses untuk media daring pun masih terbatas.

Keempat, ketidaksiapan anggaran yang mendukung penggunaan media daring, misalnya untuk pembelian kuota internet. Selain gawai, untuk mengoperasikan media daring diperlukan kuota internet yang biayanya lumayan besar. Itu artinya, diperlukan biaya tambahan di luar pengeluaran rutin.

Bagi siswa atau guru yang berasal dari keluarga dengan tingkat ekonomi terbatas, penambahan anggaran untuk kuota internet ini tentu sangat memberatkan. Di sinilah muncul dilema dalam pemanfaatan media daring. Di satu sisi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan memberikan semangat untuk meningkatkan produktivitas.

Namun,disisi lain kemampuan finansial guru dan siswa masih sangat terbatas. Harapan untuk mendapatkan fasilitas kebutuhan biaya dari negara pun belum terwujud.

Kelima, siswa kesulitan konsentrasi belajar dari rumah dan mengeluhkan beratnya penugasan soal dari guru, peningkatan rasa stress dan jenuh akibat isolasi berkelanjutan berpotensi menimbulkan rasa cemas dan depresi bagi anak.

Selain itu, sistem kuliah online bisa mendorong semua mahasiswa dalam pemanfaatan teknologi secara efektif, sehingga nantinya dapat menghasilkan SDM yang tidak hanya unggul dalam bidangnya saja tetapi juga unggul di bidang teknologi (Khasanah, Pramudibyanto and Widuroyekti, 2020).

Hal ini memiliki peluang untuk mewujudkan revolusi industri 4.0 di mana semua tenaga kerja dituntut untuk bisa beradaptasi dengan teknologi yang ada (Banu Prasetyo and Trisyanti, 2018) Kuliah online ini juga membuat jam perkuliahan menjadi lebih fleksibel yaitu mereka bisa mengikuti kegiatan perkuliahan kapanpun Selain itu, mahasiswa bisa terlindung dari penyebaran virus COVID-19 apabila kuliah dilaksanakan dari rumah masing-masing dan menghindari perkumpulan

Untuk beberapa kegiatan penulis selaku dosen Fakultas Kedokteran Hewan masih bisa menjalani aktivitas secara daring tanpa perlu bertatap muka, sebagai contoh yaitu kegiatan pengabdian masyarakat bisa disiasati dengan tetap secara daring kepada seluruh peternak dengan cara memasang LCD dan proyektor di balai desa yang dituju, lalu pengurus balai desa atau kepala desa diberikan rekaman video yang telah dibuat untuk bisa diputar oleh setiap peternak yang datang. Untuk mencegah adanya kerumunan bisa disiasati dengan membatasi jumlah peternak Actic yang datang maksimal sepuluh orang per kelompok dan jadwalnya digilir.

Kekurangan dari pembelajaran daring ini, diantaranya penyampaian materi kepada mahasiswa masih kurang sempurna dibanding tatap muka. Beberapa hal yang menghambat penyampaian materi agar bisa tersampaikan secara sempurna di antaranya yaitu waktu yang singkat, paket internet, tugas yang banyak dan kondisi sinyal (Kusnayat et al. 2020).

Tidak sedikit mahasiswa yang menghadapi masalah ini dikarenakan letak tempat tinggal yang jauh dari perkotaan, sehingga menyebabkan mereka terlambat masuk ke aplikasi online seperti zoom meeting. Selain masalah tersebut, ada juga beberapa penghambat lain seperti interaksi dosen dengan mahasiswa menjadi kurang.

Akibatnya dalam pembelajaran mahasiswa sering kurang peduli saat dosen mengajar. Penulis kerap menemukan mahasiswa yang sama sekali tidak menghormati dosen saat berbicara dan sibuk dengan gadgetnya sendiri-sendiri, bahkan terkadang saat diperintahkan untuk menunjukkan kartu mahasiswa agar bisa diabsen saat ujian mereka tidak terlalu mempedulikan Hal ini menunjukkan lunturnya nilai sosial seiring perkembangan teknologi Smith and Marx (1994) memberi gambaran memang kerap terjadi dilema saat inovasi dan Act penemuan-penemuan teknologi dikembangkan Di satu sisi mempermudah kegiatan manusia, tetapi di sisi lain juga memberikan pengaruh besar kepada perkembangan nilai-nilai sosial, inilah yang mereka disebut dilema dari determinisme teknologi.

Beberapa mahasiswa juga ada yang mulai mengajukan pengajuan keringanan Uang Kuliah Tunggal (UKT), dikarenakan UKT yang terus berjalan padahal sedang tidak menggunakan fasilitas dari kampus secara langsung, seperti praktikum dan juga penyampaian materi hanya melalui daring Alasan utama pengajuan keringanan ini tentu karena banyak orang tua mahasiswa yang di-PHK dampak wabah COVID-19 ini.

Keputusan PHK besar besaran ini dilakukan oleh banyak perusahaan dikarenakan kondisi likuiditas keuangan perusahaan yang sangat minim Memang tidak bisa dipungkiri bahwasannya sektor paling terdampak saat pandemi ini berlangsung adalah sektor ekonomi, kemudian dari sektor ekonomi merambat ke berbagai sektor-sektor lainnya termasuk pendidikan.

Selain hal-hal diatas, kekurangan dari pembelajaran daring lainnya. adalah tidak semua kegiatan dosen bisa berjalan secara maksimal. contohnya seperti penelitian yang mengharuskan dosen melakukan riset di laboratorium. Melihat kelebihan dan kekuragan dari kuliah online ini, kita dapat mengambil jalan tengah dengan menjalankan program blended learning.

Blended learning pada dasarnya merupakan gabungan dari keunggulan pembelajaran langsung dan secara virtual sebagaimana dalam karya Soekartawi (2006) (Soekartawi, 2006) menyatakan "Blended learning combines the best aspect of online learning, structured face-to face activities, and real world practice. Online learning system, classroom training, and on-the-job experience have major drawback by themselves The blended learning approach uses the strength of each to counter the others weaknesses Dapat disimpulkan bahwa blended learning memanfaatkan kelebihan dari kedua metode pembelajaran untuk saling menutupi kekurangan Selain itu, metode blended learning juga memiliki keuntungan diantaranya yaitu fleksibilitas waktu, tempat dan pemilihan materi-materi yang tepat sehingga dapat disesuaikan dengan kondisi peserta didik dan kapasitas lembaga pendidikan yang bersangkutan. Menurut Menteri Pendidikan Nadiem Makarim blended learning riva sangat cocok untuk diaplikasikan selama pandemi berlangsung tidak hanya Nadiem Makarim. Ikatan Guru Indonesia (IGI) juga setuju untuk mengaplikasikan metode ini.

Untuk penerapan blended learning ini yaitu penyampaian materi dilakukan secara online tetapi untuk praktikum dilakukan secara offline dengan membagi satu kelas menjadi 2 kelompok dengan jumlah murid yang sama banyak di mana kelompok yang pertama melakukan pembelajaran secara tatap muka dan kelompok kedua secara online. Sehingga tap kelompok memiliki jatah mendapatkan pengajaran secara tatap muka dan secara online yang sama. Selain itu, untuk mahasiswa yang merasa tidak paham dengan materi yang disampaikan dapat menanyakan ke dosen secara langsung saat tatap muka sehingga materi dapat tersampaikan secara sempurna selama pandemi.

Metode blended learning ini sudah dilakukan di sebagian Universitas ataupun sekolah-sekolah lainnya. Namun, angka COVID 19 ini kembali melonjak tinggi dimana angka yang terjangkit positif setiap hari nya sangat melonjak bahkan rumah sakit tempat penanganan yang terjangkit COVID 19 ini sudah penuh dan melebihi kapasitas temat yang tersedia dan para perawat rumah sakit mulai banyak yang kewalahan, sehingga diberlakukannya kembali kebijakan awal yaitu dilarangnya kegiatan-kegiatan dalam bentuk apapun di sekolah-sekolah, dan Universitas, bahkan berlakunya kembali pembatasan bekerja secara langsung yaitu menggtunakan sistem absen kembali.



Pandemi covid-19 yang terjadi saat ini merupakan bencana dunia. Bukan hanya masyarakat Indonesia yang berduka, seluruh penduduk di muka bumi pun mengalaminya. Sebagai warga negara Indonesia yang beragama,kita harus percaya bahwa segala masalah dan cobaan yang kita alami saat ini merupakan kehendakTuhan Yang Maha Esa. Cobaan tersebut juga merupakan media untuk meningkatkan takwa kita kepada Sang Pencipta.

Kita harus dapat mengambil sisi positif atas musibah yang terjadi saat ini. Pertama, musibah saat inidapat mendekatkanhubungan kita sebagaimanusia dengan Tuhan Yang Maha Esasebagai Sang Pencipta.Kedua, banyaknya waktu luang yang tersedia bagiorangtua untuk untuk mengawasidan membimbinganaknya belajar selama di rumah. Ketiga, banyak guru yang mendadak menjadi youtuber untuk membuat video-video pembelajaran yang nantinya akan dibagikan kepada siswa.

Pandemi Covid-19 memiliki dampak yang luar biasa dalam seluruh aspek kehidupan.Semua orang di dunia merasakan masa-masa sulit akibat terjadinya pandemi ini. Namun, bukan berarti kita harus menyerah dengan keadaan dan hanya berdiam diri tanpa melakukan kegiatan. Meski penyebaran covid-19 masih menghantui, namun kehidupan tetap harus berjalan. Pendidikan harus tetap dilaksanakan. Aktivitas pembelajaran harus tetap dijalankan dengan mematuhi imbauan pemerintah. Dengan kebijakan belajar dari rumah menggunakan metode daring, diharapkan penyebaran virus dapat diputus dan pandemi covid-19 segera berakhir.

sumber : https://www.kompasiana.com/meilawatiir/60d992c115251059d21a5ee2/dilema-pendidikan-di-masa-covid-19?page=4

Post a Comment

0 Comments