Cegah Klaster Perkantoran, Jam Kerja Dinilai Perlu Dipersingkat

Jakarta: Data Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Energi (Disnakertrans) DKI Jakarta memperlihatkan kasus covid-19 kembali meningkat di klaster perkantoran sepanjang 2021. Jumlah perusahaan atau perkantoran yang ditutup sementara akibat covid-19 mencapai 2.114 pada periode 11 Januari hingga 26 April 2021.


Ahli epidemiologi Universitas Indonesia Tri Yunis Miko Wahyono tak heran klaster perkantoran masih terjadi. Pasalnya, masih banyak perusahaan yang tidak patuh dengan aturan 50 persen sistem kerja karyawan masuk kantor.

"Klaster perkantoran itu terbanyak ketiga. Pertama klaster keluarga, kedua klaster tetangga, dan ketiga klaster perkantoran," kata Tri Yunis seperti diberitakan Mediaindonesia.com, Minggu, 6 Juni 2021.

Menurut dia, pencegahan klaster perkantoran meliputi deteksi dini berkala di kantor. Tes minimal, seperti antigen, harus dilakukan di kantor seminggu atau sebulan sekali. Untuk pencegahan penularan covid-19 yang efektif, tes covid-19 perlu dilakukan setiap hari di kantor.

Pencegahan kedua, yaitu pengetatan disiplin dan pengawasan protokol kesehatan (prokes) di kantor. Masker yang disarankan digunakan di kantor ialah N95.

"Yang perlu diwaspadai adalah terkadang karena sudah teman dekat, saat ketemu dan ngobrol, masker dibuka. Padahal tidak tahu apakah negatif atau positif covid-19. Ini harus diawasi prokesnya, social distancing juga harus ketat," ujar dia.

Tri mengingatkan kembali pembentukan satuan tugas (satgas) covid-19 di perkantoran, seperti aturan pemerintah. Satgas ini akan mengawasi pelaksanaan prokes di kantor.

"Kalau perlu ada CCTV dan terdapat sekat di ruang kantor. Sekat ini akan menjaga social distancing antarpekerja yang masuk kantor," tutur dia.

Pencegahan ketiga, yaitu pegawai yang masuk kantor perlu menggunakan kendaraan pribadi. Jika pegawai masih menggunakan kendaraan umum yang tidak menerapkan prokes, penularan virus korona masih berpeluang tinggi.

Keempat, Tri Yunis menyebut kapasitas 50 persen bekerja di kantor atau work from home (WFH) saat ini sudah tidak relevan. Kebijakan yang tepat, yakni 40 persen pegawai kerja di kantor dengan berangkat menggunakan kendaraan pribadi.

Ia juga menyarankan jam kerja di kantor dipersingkat. Jam kerja yang dapat diterapkan, seperti pukul 09.00-13.00 WIB atau pukul 10.00-14.00 WIB.

"Saya sarankan untuk pegawai yang masuk kantor, harus dengan surat tugas. Supaya jelas siapa yang beraktivitas," jelas dia.

Ia menyarankan para pegawai bersikap profesional di kantor dan seminimal mungkin berinteraksi dengan pegawai lainnya. Hal ini penting dalam mencegah klaster perkantoran.

"Marilah kita jaga negara ini agar jangan sampai terjadi seperti di India. Potensi akan terjadi seperti India di Indonesia ada. Varian baru yang ada di Indonesia, jumlah yang sakit di Indonesia. Jangan jadikan potensi di Indonesia seperti India. Patuhi prokes, jaga negara ini," tegas Tri Yunis.

(OGI)

sumber : https://www.medcom.id/nasional/metro/Gbmo4gLK-cegah-klaster-perkantoran-jam-kerja-dinilai-perlu-dipersingkat

Post a Comment

0 Comments