Media Sosial: Bijak Menggunakan Media Sosial, Wujudkan Perilaku Positif

Di jaman sekarang ini teknologi dan internet bukan lagi sesuatu yang asing bagi masyarkat. Kini teknologi dan internet menjadi andalan masyarakat dalam kehidupan sehari hari. Ditambah lagi dengan keadaan pandemi Covid 19 yang mewabah di hampir seluruh negara pun juga dengan Indonesia.


Untuk mencegah penularan Covid 19 ini pemerintah pun menetapkan kebijakan stay at home (tetap dirumah), work from home (bekerja dari rumah), dan pembelajaran daring (dalam jaringan) seperti virtual class secara zoom meeting, google classroom, ataupun menggunakan grup whatsapp kelas. Sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa sekarang ini kita tidak akan bisa melakukan kegiatan sehari hari selama pandemi tanpa adanya internet.

Selain kebijakan pemerintah yang mengalami perubahan ternyata pandemi ini juga membuat masyarakat mengalami perubahan perilaku terhadap cara bersosialisasi. Banyak cara untuk bersosialisasi salah satunya dengan menggunakan aplikasi media sosial yang kini sudah banyak kita temukan. Hampir tidak mungkin jika masyarakat sekarang ini tidak memiliki akun sosial media seperti facebook, instagram, twitter, whatsapp, atau telegram, dan lain lain.

Seintrovert orang setidaknya pasti memiliki salah satu akun sosial media karena kini menjadi kewajiban untuk memiliki akun sosial media karena untuk memenuhi kegiatan sehari hari seperti tugas sekolah, tuntutan pekerjaan, dan juga untuk hiburan diri. Karena sebenarnya media sosial memiliki manfaat yang cukup baik dan bermanfaat bagi kita. Namun amat disayangkan kini banyak orang yang menyalahgunakan sosial media untuk hal hal yang tidak baik.

Berdasarkan data dari Hootsuite disebutkan bahwa sebanyak 338,2 juta orang di Indonesia menggunakan mobile phone. Sebanyak 175,4 juta orang di Indonesia menggunakan internet.

Sebanyak 160 juta orang di Indonesia menjadi pengguna aktif di media sosial. Sedangkan untuk data mengenai kasus yang terjadi di media sosial diambil dari survei yang dilakukan oleh Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet) mencatat bahwa jumlah pemidaan warganet yang melakukan penyalahgunaan di media sosial pada tahun 2017 sebanyak 52 kasus. Kemudian pada tahun 2018 sebanyak 25 kasus. Pada tahun 2019 sebanyak 24 kasus. Dan pada januari -- oktober 2020 mencatat terdapat 59 kasus. Hasil dari survei tersebut dapat kita lihat angka tertinggi dari kasus di media sosial terjadi pada tahun 2020. Menurut survei hal tersebut karena banyak yang melakukan penyebaran hoaks mengenai covid-19 dan hoaks mengenai soal UU Cipta Kerja.

Berikut beberapa dampak negatif akibat menggunakan media sosial secara berlebihan:

1. Gangguan fisik terhadap kesehatan mata, mual, pusing. Beberapa hal tersebut terjadi karena terlalu banyak menatap layar handphone.

2. Dapat terkontaminasi dengan konten yang negatif. Karena ruang lingkup internet yang sangat luas memudahkan dalam mengakses konten-konten yang negatif dengan unsur SARA. Dengan begitu kita sebagai pengguna agar selalu bijak dalam menggunakan internet dan media sosial.

3. Dapat memicu kejahatan karena akses internet yang bebas. Biasanya kerap terjadi tindak kejahatan pembulian. Kebanyakan terjadi pada media sosial instagram,tiktok, dan facebook.

4. Dapat menimbulkan gangguan mental jika mendapatkan komentar komentar dari temannya yang mungkin tidak bisa dipahami. Kadang juga dapat menimbulkan rasa iri yang berlebihan atau juga terjadinya overthinking.


5. Mengganggu relasi di dunia nyata apabila pengguna terlalu asik dengan media sosialnya dan menjadi enggan untuk bersosialisasi dengan masyarakat sekitar.

6. Dapat terkontaminasi dengan berita berita hoax yang tersebar di media sosial.

Jika kita lihat data kasus pemidaan dari media sosial tidak dapat dipungkiri bahwa media sosial memiliki dampak negatif yang cukup serius. Bahkan di Korea Selatan ada beberapa kasus bunuh diri yang dilakukan beberapa pesohor terkenal akibat dampak dari komentar jahat pada akun media sosial miliknya. Namun kejadian tersebut dapat kita hindari dan hadapi apabila bijak dalam menggunakan media sosial.

Sebagai negara yang demokratis media sosial ini memiliki sisi positif bagi masyarakat apabila dapat menggunakannya dengan bijak. Media sosial dapat dijadikan sebagai wadah dalam menyampaikan pendapat untuk kinerja pemerintah, juga dapat menjadikan masyarakat lebih kritis terhadap permasalahan yang terjadi di Indonesia ini dan dapat dijadikan tempat untuk berdiskusi untuk Indonesia yang lebih maju dan modern.

Pada (22/02/2019) Kemenko PMK mengadakan Gathering dengan tema "Positif Bermedia Sosial" yang diadakan di Four Points by Sheraton,Jakarta. Kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kapasitas penggunaan internet secara positif dan kreatif. Dalam kegiatan tersebut juga dijelaskan bagaimana tata cara dan etika bermedia sosial dan pentingnya dalam melakukan revolusi mental, menurut Yuliana Hartato dan Dr. Paulus Wirutomo, MSc sebagai narasumber dalam acara tersebut.

Yuliana mengatakan bahwa dalam melakukan tata cara etika dalam bermedia sosial pertama tama kita perlu mengetahui dan memahami dahulu etika dalam kehidupan sehari hari barulah setelah itu dapat menerapkan etika dalam bermedia sosial. Selain itu penting juga dalam melakukan revolusi mental. Paulus menjelaskan bahwa dalam bermedia sosial masyarakat perlu melakukan nilai-nilai revolusi mental. Revolusi Mental adalah gerakan dalam mengubah cara pandang, cara pikir, sikap, dan perilaku bangsa Indonesia dengan mengedepankan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang maju, modern, makmur, dan sejahtera.

Antony Mayfield menjelaskan bahwa Media Sosial adalah tentang menjadi manusia dalam berbagi ide, bekerjasama, dan berkolaborasi dalam menciptakan kreasi, pemikiran, berdebat, dan untuk menemukan teman baik, pasangan, juga untuk dapat membangun sebuah komunitas. Ada beberapa manfaat media sosial pada masyarakat Indonesia selama pandemi seperti pada pengertian yang telah dijelaskan oleh Antony, yaitu:

1. Kini media sosial sudah menjadi wadah dalam melakukan kampanye -- kampanye berbagai isu, dari isu yang sudah diketahui masyarakat dan pemerintah sampai isu yang belum diketahui oleh masyarakat awam dan pemerintah guna untuk mendapatkan perhatian agar segera diselesaikan.

2. Memunculkan nilai kreativitas masyarakat yang dituangkan dalam beberapa konten pada media sosial tiktok dan youtube mengenai permasalahan pandemi Covid-19.

3. Memunculkan berbagai inovasi pada produk produk yang belum diduga duga sebelumnya.

4. Masyarakat memaksimalkan pemanfaatan media sosial dalam menggali ilmu.

5. Media sosial juga dapat menyatukan masyarakat Indonesia dalam bersama sama menghadapi pandemi ini. Salah satu yang dilakukan sepeti penggalangan dana yang dilakukan oleh influencer kemudian dikumpulkan dan dibagikan ke berbagai tempat yang membutuhkan dana tersebut dalam menanggulangi Covid 19.

So, tidak selalu media sosial memiliki dampak yang negatif semua tergantung dari bagaimana kita dapat menggunakannya dengan bijak atau tidak. Walau memang banyak yaang beranggapan media sosial sebagai toxic life tapi apabila kita dapat menangani nya justru akan mengembangkan sebuah ide dan karya. Salah satu cara dalam bijak menggunakan media sosial kita dapat melakukan revolusi mental seperti yang dikatakan oleh Paulus diatas.

Jangan jadi pengguna yang hanya bisa melakukan kejahatan di dunia maya karena kita adalah bangsa Indonesia yang berlandaskan nilai -- nilai pancasila yang berbhineka tunggal ika. Sebagai generasi penerus jadikan media sosial untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang maju dan bermartabat. Mari bangun media sosial yang positif jika bukan kita yang memulai siapa lagi. Sekian tulisan saya semoga membantu kalian terimakasih :)

sumber : https://www.kompasiana.com/millentiannoor8778/6093ff478ede480daa480312/media-sosial-bijak-menggunakan-media-sosial-wujudkan-perilaku-positif?page=3

Post a Comment

0 Comments