Long Covid, Apa Strategi Entrepreneur?

Indonesia masih di dera pandemi, dan mungkin masih bisa satu hingga dua tahun ke depan. Bagi sebagian orang medis, istilah LONG COVID, adalah masa dimasa orang yang seharusnya telah pulih dari Covid, tapi tetap mengalami gejala covid hingga berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Di istilah medis sendiri dibagi menjadi Acute Covid (kurang 4 minggu), Ongoing Symptotatic Covid (sampai dengan 12 minggu), dan terakhir Sindrome Pasca Covid, ini yang lebih dari 12 minggu , atau 3 bulan lebih.


Lalu apa hubungannya dengan pengusaha, entrepreneur ?

Kita bukan membahas mengenai Long Covid dari sisi medis, tapi dampak Covid yang jangka panjang, dimana bisa hingga 2-3 tahun. Apa strategi yang harus dilakukan pengusaha , entrepreneur untuk hal ini .

Pertama, cek kondisi keuangan anda.

Bila kondisi keuangan menurun semasa pandemi, dan terus menurun, maka harus segera cek dimana kebocorannya. Bila itu di penjualan yang menurun, coba siasati cara penjualan lain, seperti online, via partner, via marketplace.

Bila kondisi dari sisi beban operasional, segera lakukan penghematan. Jangan sampai kebocoran ini membuat anda bobol secara keuangan.

Kedua, mana yang lebih bisa berkembang, itu yang dikembangkan.

Long covid itu 63,5% dibandingkan yang covid biasa (36,5%). Mungkin juga hal yang sama, mungkin 60% tidak bisa berkembang usahanya, tapi hanya 40% yang berkembang, maka ini yang difokuskan. Saya tahu juga ada yang bisnisnya berkembang pesat di masa pandemi, maka pertahankan itu. Fokuskan kepada yang sedang berkembang. Dulu kita mengenal pareto low, 20% vs 80%, fokuskan di yang memberikan pendapatan pasti untuk anda.

Ketiga, cash is the king.

Bukan ukuran besar proyek di masa pandemi, bukan ukuran besar order, kalau semua itu dihutangi dalam jangka panjang. Kita harus hidup dari cash. Maka mau tidak mau, kita harus menjaga kestabilan cash, dan salah satunya terpaksa memilih proyek yang bisa dibayar tepat waktu. Maka saya sekarang sangat ketat di urusan cash dan term of payment (TOP). Pembayaran yang lebih dari 30-90 hari sangat beresiko membebani keuangan cashflow anda.

Keempat, tim yang setia berkembang.

Saya harus bilang, mungkin banyak tim setia anda, tapi belum tentu mereka berkembang. Tim setia kita juga harus mau berkembang. Mereka juga harus siap 'pindah' divisi, upgrade kemampuan / skill, dan tentu harus mau belajar. Bila tim setia tidak mau berkembang, tidak mau belajar dan artinya anda harus siap-siap rekrut tim baru, dimana hal ini yang dihindari selama masa pandemi, tapi karena tim yang ada tidak mau, maka terpaksa anda lakukan. Dan ujungnya, tim setia ini akan berganti orang.

Kelima, gunakan freelancer.

Pendekatan ini tidak umum, tapi sekarang harus dipertimbangkan. Anda tidak mungkin membayar orang mahal hanya untuk satu keperluan. Misal anda mau buat marketplace, tidak mungkin menggaji orang khusus karena harus berhemat, maka gunakan freelancer. Pekerja paruh waktu layak anda pertimbangkan. Banyak platform menyediakan, gunakan layanan mereka untuk menemukan orang terbaik yang bisa membantu anda. dan anda tidak harus keluar dana banyak.

Keenam, kolaborasi.

Bila masih berpikiran bahwa kita bisa mengerjakan segala sesuatunya, maka itu salah. Bila kita berpikir bahwa kita akan menguasai banyak hal, itu juga salah. Karena masing-masing orang, perusahaan, punya kapabiltas yang bisa kita lakukan kerjasama, kolaborasi. Maka pilihan untuk berkolaborasi adalah hal utama saat ini untuk mengembangkan usaha anda di masa pandemi.

Silahkan mencoba enam jurus diatas mengatasi long covid yang harus kita jalani saat ini.

sumber : https://www.kompasiana.com/startmeup/609b53888ede482fcf75f942/long-covid-apa-strategi-entrepreneur?page=2

Post a Comment

0 Comments