Inovasi Fintech Percepat Transformasi Perbankan Digital

Jakarta, Beritasatu.com - Pertumbuhan ekonomi untuk mencapai visi Indonesia maju mengalami tantangan yang cukup berat di tengah pandemi Covid-19. Untuk itu, pemerintah terus mendorong agar transaksi berbasis digital menjadi salah satu solusi yang harus terus didorong, sebagai elemen penggerak seluruh sektor ekonomi dan melibatkan seluruh masyarakat.

Ketua STIE-IBS, Kusumaningtuti Sandriharmy Soetiono, menyoroti pertumbuhan bank digital di masa pandemi. Menurutnya, di tengah-tengah pandemi Covid 19, dalam era industri 4.0 telah terjadi percepatan layanan digital termasuk di dunia jasa keuangan dan perbankan.

"Selain itu, perkembangan inovasi di bidang financial technology (fintech) mendorong sektor perbankan berubah menjadi bentuk digital yang lebih versatile,” kata Kusumaningtuti dalam webinar Indonesia Banking School (IBS) dengan tema "Kebijakan dan Regulasi Perbankan Digital dalam Ekosistem Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan yang Berkelanjutan", Jumat (30/4/2021).

Menurut Kusumaningtuti, layanan bank berkembang menuju ke arah digital atau disebut bank digital serta kegiatan perbankan baru yang disebut neobank. Bank digital yang tanpa cabang seolah menjadi jawaban akan perubahan yang saat ini terjadi.

"Perkembangannya sangat pesat, sehingga regulator bersiap mengeluarkan kebijakan dan regulasi untuk memastikan bahwa perkembangan tersebut tetap dalam koridor menjaga stabilitas sistem keuangan serta mendukung pertumbuhan perekonomian nasional," imbuhnya.

Lebih lanjut, Kusumaningtuti menyebutkan, inovasi ini direspons oleh regulator agar menjamin iklim industri yang tetap sehat, aman, dan tentunya berkesinambungan.

"Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama-sama dengan asosiasi perbankan menyusun cetak biru transformasi perbankan digital, meliputi aspek perlindungan data, kolaborasi antar institusi keuangan maupun non-keuangan, manajemen risiko, pemanfaatan teknologi, dan tata kelola kelembagaan," tandasnya.

Sementara, Deputi Komisioner Pengawas Perbankan I OJK, Teguh Supangkat menyebutkan, perbankan nasional akan dihadapkan tantangan cukup fenomenal dalam beberapa tahun ke depan. Hal ini imbas dari pandemi Covid-19 yang sudah lebih dari satu tahun yang mengubah perilaku masyarakat secara signifikan. Untuk itu, diperlukan kebijakan yang bisa memberikan efek positif untuk meningkatkan daya stabilitas sistem keuangan.

"Kondisi kerja perbankan secara umum masih relatif kuat dari sisi modal, meski ada Covid-19. Posisi dana pihak ketiga masih sangat positif pertumbuhannya. Di sisi kredit pertumbuhannya negatif, tetapi kami optimis dengan adanya vaksin dan berbagai macam relaksasi serta kebijakan pemerintah, pertumbuhannya di tahun ini akan positif," jelas dia.

Teguh menjelaskan, dengan adanya Covid-19, sampai Febuari 2021, ada kecenderungan jumlah bank menurun, karenanya ada konsolidasi, merger dan akuisisi dari beberapa bank lain. "Pencapaian stabilitas keuangan dan perbankan, tidak terlepas dari suatu sinergitas yang kuat dari otoritas fiskal, moneter, dan OJK," jelasnya.

Menurut Teguh, ada kebijakan yang saling mendukung satu sama lain dan berkolaborasi untuk pemulihan ekonomi nasional. Seperti dari Kemkeu, dari sisi stimulus fiskal maupun dukungan terhadap UMKM, dari OJK mengeluarkan kebijakan restruksasi dan relaksaksi. Regulasi, antara lain berupa Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK), yang ditargetkan akan rampung di semester pertama 2021. Salah satu komponen yang diatur dalam regulasi ini yaitu terkait persyaratan dalam mendirikan bank digital.

Untuk mendirikan bank digital, OJK akan melakukan asesmen dari sisi model bisnis, teknologi, tata kelola perusahaan dan IT, manajemen risiko IT, kompetensi SDM hingga rencana bisnis. OJK juga secara responsif telah mengeluarkan kebijakan stimulus melalui beberapa rangkaian POJK seperti POJK 11 POJK 48 dan lainnya.

"Selama tahun 2020 telah diterbitkan 10 POJK dan 5 SEOJK antara lain sebagai tindak lanjut dampak Covi-19, mendorong konsolidasi perbankan, meningkatkan transparansi, serta mendukung perkembangan industri perbankan," ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, IBS menerima bantuan solusi internet dedicated dari Lintasarta untuk mendukung kegiatan pembelajaran/ pendidikan jarak jauh (pjj) yang dilakukan oleh IBS.

Bantuan ini merupakan salah satu kegiatan CSR Lintasarta di pilar pintar, dimana Lintasarta sebagai perusahaan penyedia jasa ICT akan terus berkomitmen dalam memajukan dunia pendidikan di Indonesia.

Sumber : https://www.beritasatu.com/ekonomi/768095/inovasi-fintech-percepat-transformasi-perbankan-digital
 

Post a Comment

0 Comments