Inikah Dampak Apabila Jaringan 5G Masuk Indonesia ?


Semangatnews.com – Banyak sekali masyarakat kita yang begitu menanti kehadiran jaringan 5G di Indonesia.

Apalagi telah kita ketahui Teknologi seluler generasi kelima, alias 5G memiliki kemampuan yang lebih mumpuni dibanding 4G.

Salah satunya adalah kecepatan unduh (download) yang diklaim bisa mencapai 20 Gbps (Gigabyte per Second), dibandingkan dengan jaringan 4G yang rata-rata kecepatannya sekitar 45 Mbps [Megabyte per second].

Dan bagi pengguna sendiri, selain bisa dipakai untuk mengunduh file dengan kecepatan tinggi, teknologi tersebut bisa dimanfaatkan untuk melakukan panggilan video berkualitas tinggi dan menikmati aneka hiburan Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR), pemanfaatan Fixed Wireless Access (jaringan internet rumahan tanpa kabel), serta Cloud Gaming.

Sedangkan untuk ranah industri, penggunaan 5G bisa mencakup pengawasan real-time menggunakan drone, tindakan operasi medis jarak jauh, perbaikan mesin yang dibantu dengan AR, pengendalian kendaraan berat secara online, hingga pemosisian dan pelacakan mobil.

Teknologi 5G juga bisa dipakai untuk menerapkan produk smart metering untuk distribusi listrik, smart factory untuk otomatisasi pabrik, serta smart seaport guna menjalankan berbagai prosedur pemindahan barang di pelabuhan dari jarak jauh.

Namun, dari isu yang beredar apakah aman menggunakan teknologi 5G?
Menjawab pertanyaan tersebut, dilansir dari mongabay.co.id teknologi 5G dapat dimanfaatkan bagi kepentingan peningkatan kualitas lingkungan, namun ada kehawatiran terkait dampak buruknya bagi kesehatan.

Beberapa waktu lalu, lebih dari 180 ilmuwan dan dokter dari 36 negara memperingatkan Uni Eropa tentang bahaya 5G, khususnya dihubungkan dengan peningkatan besar-besaran paparan radiasi elektromagnetik dan Radiasi Radio Frequency [RF].

Para ilmuwan dan dokter mendesak Uni Eropa untuk mengikuti Resolusi 1815 dari Dewan Eropa dan meminta dibentuknya gugus tugas independen untuk mengkaji kembali dampak kesehatan penggunaan teknologi 5G.

Badan Internasional untuk Penelitian Kanker Organisasi Kesehatan Dunia [IARC], sejak beberapa waktu lalu telah mengklasifikasikan radiasi RF sebagai “memiliki kemungkinan karsinogenik bagi manusia”, menyusul penelitian yang menunjukkan adanya kaitan antara radiasi RF dengan tumor otak tertentu.

Menurut Marguerite Reardon [2020], kalau kategorinya sebagai “memiliki kemungkinan karsinogenik”, sejatinya, kopi dan acar sayuran juga berada dalam kategori yang sama dengan radiasi RF.

Sementara itu, Lennart Hardell dan sejumlah rekannya, dari Departemen Onkologi, Universitas Örebro, Swedia, yang menulis ulasan khusus di Jurnal Frontiers in Public Health, sebagaimana dikutip Yella Hewings-Martin [2019], menegaskan bahwa radiasi frekuensi lebih tinggi yang terkait penggunaan 5G, tidak menembus tubuh sedalam frekuensi teknologi sebelumnya, meskipun efeknya mungkin sistemik.

Lennart Hardell dkk menambahkan, jangkauan dan besarnya dampak potensial teknologi 5G belum banyak diteliti.

Untuk sementara, dalam upaya mengantisipasi kemungkinan dampak buruk radiasi RF akibat penggunaan 5G, Hardell dan timnya menyarankan agar menara seluler berada jauh dari permukiman, pusat penitipan anak, sekolah, dan tempat-tempat yang sering dikunjungi wanita hamil, serta pria yang ingin menjadi ayah dari anak-anak yang sehat, maupun kaum muda.

Selain soal radiasi RF yang memiliki “kemungkinan karsinogenik”, kehawatiran lain terkait teknologi 5G adalah radiasi elektromagnetik yang diduga dapat mengganggu orientasi burung, mamalia, dan invertebrata seperti serangga dan laba-laba serta menganggu pula metabolisme tanaman [Emrald Alamsyah, 2018].

Dalam sektor penerbangan, penggunaan jaringan 5G disebut-sebut dapat mengganggu instrumen penting pesawat.

Penyebabnya, karena gangguan sinyal dari perangkat yang menggunakan jaringan 5G dapat memblokir data yang berasal dari altimeter -pengukur ketinggian yang memberi tahu pilot pesawat seberapa tinggi mereka terbang.

Menurut otoritas penerbangan sipil Prancis, Direction Générale de l’Aviation Civile [DGAC], seperti dilaporkan France24, penggunaan perangkat 5G di dalam pesawat dapat menyebabkan risiko gangguan yang berpotensi menyebabkan kesalahan dalam pembacaan ketinggian pesawat.

Oleh sebab itu, selain meminta pengguna jaringan 5G mematikan ponselnya selama di dalam pesawat, DGAC juga meminta kekuatan sinyal dari Base Transceiver Station [BTS] 5G yang ditempatkan di dekat bandara utama Prancis dibatasi.

Sumber : https://www.semangatnews.com/ini-yang-akan-dirasakan-masyarakat-jika-jaringan-5g-masuk-indonesia/

Post a Comment

0 Comments