Buku, Si Penambah Ilmu yang Menemaniku Saat Pandemi dan Quarter Life Crisis

"Jadi bagaimana kamu sudah punya jawaban untuk pertanyaan tante?" Tanya tanteku.


"Jawaban apa maksudnya tante?"

"Kamu mau tidak menikah dengan pilihan tante? Umur kamu juga sudah 24 tahun"

Maaf tante untuk saat ini, menikah bukanlah prioritasku ". Tante nampak kesal dengan jawaban ini. Entah sudah berapa kali aku menolak calon pilihannya.

Aku, perempuan yang dihadapkan pada krisis terhadap diri sendiri.

Pandemi yang melanda dunia di tahun 2020 berpengaruh tidak hanya terhadap sektor kesehatan namun, juga pada sektor ekonomi. Banyak pekerja yang akhirnya terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dan berdampak pada meningkatnya jumlah pengangguran. Tahun 2020 adalah tahun yang penuh dengan cobaan bagi kebanyakan orang.

Aku juga terkena imbas dari pandemi. Di bulan Mei 2020, resmi menyandang status sebagai pengangguran. Tak menunggu lama, aku langsung mencari pekerjaan baru. Satu, dua , hingga entah berapa puluh kali lamaran pekerjaan aku datangi, sayangnya rezeki belum berpihak. Sedih? Marah pada nasib ? Sudah pasti. Aku sering bertanya pada diri sendiri, apa salahku ? Apa kekuranganku sehingga aku juga tak kunjung memperoleh pekerjaan? Padahal aku sudah belajar giat dalam menghadapi tes.

Rasa kurang percaya diri mulai timbul dalam diri terlebih hidup di era digital yang erat sekali hubungannya dengan media sosial. Melihat teman-temanku di media sosial kelihatannya hidup mereka menyenangkan sekali. Mereka memiliki pekerjaan dengan gaji tinggi, dan bisa work from home membuat aku iri dengan pencapaian hidup orang lain.

Aku pun tak bersemangat menghadapi hidup. Setiap hari hanya dihabiskan dengan bertanya apa kelebihan? Apa yang membuat aku tak kunjung diterima pekerjaan? Sebenarnya aku hidup untuk apa? Pertanyaan itu selalu ada di kepala. Terlebih banyak orang yang menyarankan untuk menikah saja. Entah sudah berapa kali tawaran calon suami aku tolak. Bagiku tujuan menikah bukan sebagai pelarian dari masalah hidup. Terlebih bukankah menikah di kehidupan nyata tak seindah di drama Korea?

Berteman Kembali dengan Buku.
If you only read the books that everyone else is reading, you can only think what everyone else is thinking." --- Haruki Murakami

Perjalanan hidup saat pandemi membuatku berteman kembali dengan buku. Berkat buku, aku tahu jika aku sedang mengalami fase quarter life crisis. Dilansir dari satupersen.net, quarter life crisis adalah proses pencarian jati diri yang biasanya terjadi pada umur 25-30 tahun. Orang yang mengalami fase ini akan kebingungan tentang hidupnya serta mulai mencemaskan masa depan.

Salah satu tanda dari seseorang yang mengalami fase ini adalah minder saat melihat orang lain di media sosial. Contoh, aku minder saat melihat teman-teman di media sosial yang memposting pekerjaannya. Rasa minder membuatku menarik diri dari lingkungan sekitar.

Banyaknya waktu luang karena tidak bekerja membuat aku sering membaca buku. Dari membaca mengingatkan akan kenangan masa lalu. Dulu aku suka sekali ke rumah tetangga untuk sekedar membaca majalah. Aku juga antusias membaca koran bekas yang dibawa pulang ayah seusai bekerja. Saat fase quarter life crisis, buku adalah teman setia yang menemaniku. Membaca buku adalah self healing yang tepat bagiku dan mulai belajar mencintai diri sendiri.

Saat dunia masih dilanda pandemi, membuat banyak orang tak bisa berlama-lama ke luar rumah, buku adalah teman yang setia menemani perjalanan adaptasiku. Ya, perjalanan adaptasi terhadap diri sendiri dan dunia yang sedang tak baik-baik saja. Beruntungnya toko buku Gramedia sudah ada di Aceh sehingga, aku sering berbelanja di sana. Selain itu, adanya gramedia.com mempermudah saat takut untuk keluar rumah Tentu ada banyak buku yang aku baca selama proses self healing tersebut. Di balik banyaknya buku dibaca, ada 3 buku yang paling berpengaruh dalam perjalananku melewati quarter life crisis dan pandemi, yaitu :

1. Boys Beyond the Light.

Penulis : Astrid Tito dan T Akbar Maulana

Tahun Terbit : 2016

Membaca buku ini berawal dari cerita kakak sepupu yang mengatakan jika penulis di buku ini salah satunya adalah orang Aceh. Buku ini mengambil sisi lain dari stereotip yang melekat tentang Islam, dimana Islam sering kali dianggap erat kaitannya dengan teroris.

Abay, seorang penghafal Al-Qur'an yang terjebak di Suriah. Ia terjebak dengan iming-iming jihad untuk agama Islam. Ada juga Bagas, seorang putra konglomerat yang bosan dengan hidupnya. Ia ingin hidup lebih menantang dan bermanfaat bagi agama. Hidup yang dirasa hampa membuatnya terbang ke Suriah untuk berperang. Galih, adik Bagas yang terjebak karena ingin pergi bersama abangnya.

Ada juga sosok Teguh, seorang lelaki yang trauma dengan masa lalu dan dengan semangat membara ingin berjihad. Perjalanan empat hati tersebut memberikan sudut pandang yang lain bagiku. Bahwa jihad yang diteriakkan oleh teroris adalah salah besar. Jihad yang sesungguhnya tak membunuh banyak orang. Di era sekarang ada banyak cara untuk bermanfaat bagi banyak orang dan juga agama.

2. Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat.
Penulis : Mark Manson

Tahun Terbit : 2018

Buku karya Mark Manson ini mengajarkan untuk bersikap bodo amat terhadap masalah-masalah hidup. Buku ini sesuai dengan kondisiku saat pandemi, dimana omongan-omongan orang terdengar menyakitkan dan sulit sekali untuk terlihat bodo amat. Mark Manson dalam buku ini mengungkapkan bahwa kegagalan adalah jalan untuk maju. Setiap orang yang ingin sukses harus siap dengan kegagalan terlebih dahulu.

Prinsip "lakukan sesuatu" juga ada dalam buku ini. Mark mengutip perkataan guru matematika saat SMA yaitu " jika kalian terhenti di satu soal, jangan duduk saja dan hanya memikirkan soal itu; mulailah mengerjakannya. Bahkan jika kalian tidak tahu apa yang akan kalian lakukan, satu tindakan sederhana, yaitu mulai mengerjakan pada akhirnya akan membuat beberapa ide yang tepat muncul". Konsep ini cocok sekali untuk aku dan orang di luar sana yang terlalu takut untuk mencoba.

Buku ini memberikan sudut pandang yang berbeda tentang hidup. Salah satunya adalah bahagia itu masalah. Loh kenapa begitu? Karena jika hari ini sudah bahagia, esoknya manusia akan membutuhkan rasa bahagia yang lebih. Contoh, jika hari ini bahagia karena mendapat pekerjaan dengan gaji 1 juta, besoknya tentu bahagia itu berubah dengan keinginan memperoleh gaji lebih. Bahagia dapat diperoleh dari hal-hal yang sederhana.

3. Sambal dan Ranjang.
Penulis : Tenni Purwanti

Tahun Terbit : 2020

Buku ini mengangkat hidup tentang perempuan dan streotip yang melekat. Tentang perempuan dengan segala pernak-perniknya. Salah satu cerita pendek di dalam buku ini adalah tentang seorang suami yang sangat menyukai sambal buatan istrinya. Sebelum tidur, suaminya selalu meminta istri untuk membuatkan sambal tersebut. Dikarenakan kemampuannya meracik sambal, ia ditawarkan untuk berbisnis saja namun, bingung karena sang suami hanya ingin sambal tersebut untuk dirinya saja. Ada juga cerita tentang pelecehan seksual yang dimana kerap terjadi pada perempuan. Membaca buku ini membuatku sadar bahwa menjadi perempuan itu tak mudah, namun tetap saja ada banyak hal yang dapat disyukuri dengan menjadi perempuan.

Ngomong-ngomong apa sih peran buku dalam menemani perjalananku saat pandemi? Terlebih selain harus beradaptasi, tahun ini adalah tahun terberat bagi banyak orang.

1. Menurunkan stres.
Masa pandemi covid-19 membuat banyak orang tak bisa keluar rumah. Banyak orang yang harus belajar dan bekerja dari rumah. Tentu saja ini membuat banyak orang stres, terlebih adanya rasa khawatir tertular virus covid-19. Ada studi pada tahun 2009 yang dilakukan oleh University of Sussex yang menyatakan bahwa membaca dapat menurunkan stres hingga 68 persen.

Saat membaca, seseorang akan tenggelam dalam bacaan atau imajinasi yang ditulis penulis. Hal ini akan mengakibatkan pembaca lupa akan masalah atau situasi yang sedang dihadapi. Bagiku manfaat dari membaca buku yang satu ini memang benar adanya. Buku mampu membuat aku melupakan media sosial dan stres karena tak kunjung memperoleh pekerjaan. Membaca buku juga membuatku mulai mencintai diri sendiri dan tak membandingkan lagi hidup dengan orang lain. Bukankah setiap orang punya jalan hidupnya masing-masing?

2. Menetapkan Personal Boundaries.
Saat melewati perjalanan adaptasi dan masa-masa sulit pandemi, ada saja orang yang masih melakukan hate speech. Tentu saja hate speech sangat tidak baik bagi kesehatan mental. Berkat ilmu dari buku aku mulai menetapkan personal boundaries.

Personal boundaries adalah batasan antara diriku dengan orang lain. Contohnya, aku berhak berkata tidak terhadap perlakuan yang tidak menyenangkan, atau aku berhak menentukan omongan siapa yang mau ku dengar dan yang tidak perlu didengar. Menetapkan personal boundaries ini membuat kesehatan mental di era pandemi menjadi lebih baik.

3. Mulai Menulis (lagi).
Menulis bukanlah hal yang baru di hidupku. Sejak kecil aku terbiasa menulis diari hingga puisi. Sayangnya karena kesibukan membuat aktivitas ini terabaikan. Membaca buku membangkitkan kembali aktivitas menulis.
Banyak membaca buku artinya banyak menambah ilmu pengetahuan sehingga, memiliki cukup banyak referensi untuk menulis. Beruntungnya ternyata dari menulis dapat memperoleh pemasukan.

Perjalanan hidup saat pandemi memang tak menyenangkan namun, tetap saja ada banyak hal yang dapat disyukuri. Selain itu, ada banyak cara untuk mengisi waktu luang saat harus banyak #dirumahaja, salah satunya membaca buku. Di era digital dan ancaman mutasi virus covid-19 baru, kamu dapat membelinya melalui Gramedia.com tanpa harus keluar rumah. Ada banyak promo yang menarik tentunya.

sumber : https://www.kompasiana.com/irhamnamjamil6351/608fc89d8ede48600f483103/buku-si-penambah-ilmu-yang-menemaniku-saat-pandemi-dan-quarter-life-crisis?page=5

Post a Comment

0 Comments