Asesmen Mutu, Penguasaan Teknologi Hingga Akhlak, Upaya Tingkatkan Kualitas Pendidikan di Aceh

Drs.H.Alhudri, MM, ketika memantau kegiatan belajar semester genap pada hari pertama belajar tatap muka di SMKN 3 Loeng Raya, Banda Aceh, Senin (4/1/2021). (Foto/Ist)
Anggota DPR Aceh, Hj.Nurlelawati, mengatakan bahwa pendidikan selama Pandemi COVID-19, perlu melakukan terobosan untuk penyesuaian sistem pendidikan. Salah satunya penguasaan teknologi digital, baik oleh para tenaga pendidik maupun siswa.

Program Aceh Carong sebenarnya telah memiliki visi dan misi yang sangat bagus untuk meningkatkan mutu pendidikan di Aceh. Dibutuhkan kolaborasi pendidikan dengan melibatkan sebanyak mungkin sektor yang mengambil peran dan tanggung jawab dalam pendidikan.

Menurut Nurlelawati, asesmen mutu baik untuk peserta didik maupun tenaga pendidik perlu dilakukan untuk melihat sejauh mana peningkatan kualitas pendidikan di Aceh.

“Selain pengelola pendidikan juga perlu dibantu oleh masyarakat, serta pemerhati pendidikan untuk memberi masukan kepada sekolah maupun dinas pendidikan, supaya pendidikan di Aceh ini terus bergerak dan lebih meningkat,” tutur anggota Komisi VI DPRA dari Fraksi Golkar tersebut.

Nurlelawati juga menambahkan, pendidikan saat ini juga harus mampu mengedepankan atau mengutamakan pendidikan akhlak, etika maupun moral di tengah pandemi COVID-19.

“Pendidikan karakter juga harus kembali menguat dan menjadi bahan perhatian terhadap kemerosotan moral peserta didik,” jelasnya kepada Waspadaaceh.com, Rabu (5/5/2021).

Ia menyatakan, penyalahgunaan narkoba di Aceh saat ini sudah tergolong cukup serius. Maka dibutuhkan penanganan menyeluruh guna menyelamatkan anak bangsa dari penyalahgunaan narkoba.

Hj.Nurlelawati, anggota DPRA dari Fraksi Golkar. (Foto/Ist)
“Peran ulama dan tokoh masyarakat serta tenaga pendidik (guru) juga dinilai sangat strategis untuk mengkampanyekan pemberantasan penyalahgunaan narkoba,” ungkapnya.

Ia mengatakan semoga dengan situasi COVID-19 ini bisa meningkatkan kepedulian banyak orang untuk semakin bertanggung jawab dalam meningkatkan kualitas dunia pendidikan.

Maksimalkan Asesmen Mutu

Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan Aceh masa pandemi COVID-19 ini, dibutuhkan peningkatan asesmen mutu di sekolah.

Pengamat Pendidikan Aceh, Mukhlis, mengatakan, program Aceh Carong sebenarnya sudah cukup bagus.

Dia menjelaskan perlunya meningkatkan asesmen mutu sekolah untuk mengevaluasi dan memetakan sistem pendidikan berupa input, proses, dan hasil (output). Baik evaluasi internal maupun eksternal. Data akurat akan menjadi fondasi bagi penyusunan kebijakan pembelajaran.

Mukhlis mengatakan, dalam menjaga kualitas pendidikan menjadi tantangan nyata di tengah pandemi COVID-19. Proses belajar mengajar antara pendidik dan peserta didik harus berjalan maksimal walau dengan berbagai pembatasan dan keterbatasan.

Pendidikan berbasis digital memerlukan tenaga pendidik (guru dan dosen) yang harus terus menerus mengupdate dirinya. Baik update untuk kondisi perkembangan digital, perkembangan revolusi industri 4.0, maupun perkembangan teknologi itu sendiri.

Drs. Mukhlis, M.Hum., dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP USK.
Sementara itu tambahnya, para guru terutama yang sudah sepuh, masih banyak yang mengalami kesulitan dalam mengoperasikan fitur-fitur teknologi informasi untuk menunjang kegiatan pembelajaran.

Mereka masih nyaman dengan cara lama (manual) yang minim penggunaan teknologi. Ujung-ujungnya akan berimbas pada tidak adanya progres yang berarti dalam proses belajar mengajar.

“Meningkatkan kualitas pendidikan melalui kesiapan guru dan sarana prasarana pendukung menjadi komitmen kita,” tutur Mukhlis yang dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP USK itu.

Ia juga mengatakan bahwa yang menjadi kendala selama ini juga situasi politik Aceh. Seperti pergantian pimpinan di Dinas Pendidikan, katanya, juga berpengaruh terhadap implementasi perencanaan yang sudah disepakati sejak awal oleh pimpinan sebelumnya.

“Pergantian kepala dinas itu juga menjadi kendala. Kalau dunia pendidikan sudah ada kepentingan politik, ini juga menjadi bagian evaluasi dalam kemajuan dunia pendidikan di Aceh,” tutur Mukhlis yang juga merupakan ketua Komisi Pendidikan Dasar dan Menengah Kota Banda Aceh tersebut.

Program Pembatik

Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Alhudri, sebelumnya telah mengajak semua guru tingkat satuan pendidikan di Aceh agar dapat mengikuti program Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (Pembatik) Tahun 2021.

Direktur Jejaring Pendidikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI, Aida Ratna Zulaiha, didampingi Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Alhudri, mengkampanyekan pendidikan antikorupsi pada satuan pendidikan di Kota Banda Aceh.

Alhudri menyebutkan, dengan mengikuti kegiatan Pembatik para guru di Aceh dapat menunjukkan kemampuannya dalam beradaptasi menghadapi perubahan lingkungan pendidikan pada era digital seperti sekarang ini. Khususnya di masa pandemi COVID-19 yang mengharuskan proses belajar mengajar lebih banyak memanfatkan teknologi digital.

“Dengan mengikuti program Pembatik, diharapkan para guru dapat lebih bersaing dan pada akhirnya mampu meningkatkan kualitas mutu pendidikan Aceh yang lebih baik,” kata Alhudri saat memberikan sambutan pada pembukaan Sosialisasi pembelajaran Berbasis TIK (PembaTIK), Senin (26/4/2021) melalui virtual (zoom meeting).

Kata Alhudri, perubahan dunia kini tengah memasuki era revolusi industri 4.0, di mana teknologi informasi telah menjadi basis dalam kehidupan manusia. Kondisi itu mengakibatkan terjadinya perubahan paradigma pendidikan yang berfokus pada produksi pengetahuan dan inovasi pengetahuan.

“Karena salah satu elemen penting yang harus menjadi perhatian untuk mendorong daya saing di era revolusi industri 4.0 adalah mempersiapkan sistem pembelajaran yang lebih inovatif, dan meningkatkan kompetensi lulusan yang memiliki keterampilan abad-ke 21,” kata Alhudri. (Cut Nauval Dafistri)

Sumber : https://waspadaaceh.com/asesmen-mutu-penguasaan-teknologi-hingga-akhlak-upaya-tingkatkan-kualitas-pendidikan-di-aceh/

 

Post a Comment

0 Comments