Sempat Terpuruk, Pengrajin Gitar Desa Ngrombo Sukoharjo Bergairah Lagi


Solopos.com, SUKOHARJO — Desa Ngrombo di Kecamatan Baki, Sukoharjo, Jawa Tengah, selama ini dikenal sebagai kampung pengrajin gitar. Hampir 90 persen warga setempat bekerja sebagai pengrajin gitar selama bertahun-tahun.


Tak sulit menjumpai para pengrajin gitar di Desa Ngrombo Sukoharjo. Biasanya, para pengrajin gitar beraktivitas di halaman rumah atau pinggir jalan perkampungan.

“Jumlah pengrajin gitar di Desa Ngrombo lebih dari 200 orang. Cukup banyak. Mata pencaharian sebagian warga setempat memproduksi gitar,” kata seorang pengrajin gitar di Desa Ngrombo, Sugiyono, saat berbincang dengan Solopos.com, Senin (19/4/2021).

Sugiyono tergolong pengrajin gitar yang moncer. Omzet penjualannya terus meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan, Sugiyono mampu melayani order gitar dari luar negeri pada 2009.

Beragam jenis gitar mulai dari akustik hingga ukulele diekspor ke Singapura, Filipina dan sejumlah negara di Eropa seperti Italia. Kala itu, permintaan kerajinan gitar dari pasar lokal juga cukup tinggi.

“Saking tingginya, saya kewalahan menerima order dari pelanggan dalam negeri. Saya lantas menyetop ekspor gitar dan fokus melayani pesanan lokal,” ujar dia.

Pelanggan Berhenti Memesan Gitar
Bisnis kerajinan gitar mengalami surut saat muncul pandemi Covid-19 pada Maret 2020. Minimnya order dari pelanggan memengaruhi pendapatan setiap bulan. Sebagian besar pelanggan berhenti memesan kerajinan gitar. Kondisi itu terjadi selama berbulan-bulan hingga pertengahan 2020.

“Saya harus memberhentikan belasan karyawan akibat pandemi Covid-19. Biaya operasional tinggi sementara tak ada pemasukan. Sekarang, saya hanya dibantu empat karyawan dalam memproduksi gitar setiap hari,” papar dia.

Hal senada diungkapkan pengrajin gitar lainnya, Agus. Bisnis kerajinan gitar kembali menggeliat setelah pemerintah membuka keran aktivitas usaha dan bisnis saat masa transisi kenormalan baru.

Para pengrajin gitar bisa bernapas panjang setelah menerima order dari pelanggan lokal. Mereka kembali bergairah membangkitkan industri kerajinan gitar di tengah gerusan pandemi Covid-19.

Agus menyebut kerajinan gitar merupakan warisan leluhur yang harus dijaga dan dilestarikan oleh generasi muda.

“Saya generasi ketiga pengrajin gitar. Sedikit demi sedikit order yang didapat tak masalah. Harga gitar bervariasi tergantung kerumintan dan kesulitan saat membikin gitar. Harga paling murah Rp35.000. Namun ada juga yang dibanderol hingga jutaan rupiah seperti gitar akustik,” kata dia.

“Saya generasi ketiga pengrajin gitar. Sedikit demi sedikit order yang didapat tak masalah. Harga gitar bervariasi tergantung kerumintan dan kesulitan saat membikin gitar. Harga paling murah Rp35.000. Namun ada juga yang dibanderol hingga jutaan rupiah seperti gitar akustik,” kata dia.

sumber : https://www.solopos.com/sempat-terpuruk-pengrajin-gitar-desa-ngrombo-sukoharjo-bergairah-lagi-1119897

Post a Comment

0 Comments