Saat Pandemi Bank Lebih Ketat Salurkan Kredit, Ini Alasannya

Pengembang berharap pihak perbankan lebih fleksibel memberikan persetujuan kredit nasabah saat situasi pandemi ini. Di sisi lain, bank harus memastikan calon kreditur memiliki kapabilitas untuk memenuhi kewajibannya karena merupakan tanggung jawab penggunaan dana publik.

Pandemi Covid-19 telah kita lalui selama satu tahun dan telah banyak adaptasi maupun berbagai penerapan new normal untuk kehidupan sehari-hari maupun kegiatan bisnis. Penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) menjadi salah satu yang paling memukul sektor properti karena tidak dibolehkannya ajang pameran maupun mengunjungi show unit.

Begitu juga pola-pola marketing yang banyak berubah dan mengandalkan teknologi dengan berbagai fitur digital marketing. Bukan hanya pengembang, perbankan juga banyak melakukan penyesuaian dengan memberikan kemudahan aplikasi pengajuan kredit secara online yang bisa dilakukan dari rumah.

Hanya saja, saat pandemi ini cukup banyak pengajuan kredit KPR maupun KPA yang ditolak pihak bank. Berbagai persyaratan yang harus dipenuhi menjadi lebih ketat yang membuat banyak pengajuan kredit ditolak dan hal ini berdampak pada pendapatan kalangan pengembang.

Menurut Ketua DPD Real Estat Indonesia (REI) DKI Jakarta Arvin F. Iskandar, berbagai stimulus maupun regulasi yang dikeluarkan pemerintah untuk memudahkan dan memajukan sektor properti harus direspon oleh semua pihak. Perbankan misalnya, harus lebih fleksibel menelaah calon nasabah yang mengajukan kredit properti.

“Saat situasi seperti ini tentu sulit untuk mendapatkan nasabah dengan kriteria perfect sehingga saat ini ada banyak penolakan. Mohon bank dalam aplikasi approval-nya bisa lebih fleksibel supaya rating juga naik dan tidak banyak penolakan karena saat ini masyarakat sulit memenuhi kriteria perfect,” ujarnya saat bicara dalam Webinar Satu Tahun Pandemi: Perilaku Pencari Rumah dan Adaptasi Industri yang diselenggarakan Rumah.com.

Executive Vice President Nonsubsidized Mortgage & Personal Lending Division (NSLD) Bank BTN Suryanti Agustinar (Yanti) menjelaskan, situasi pandemi memang membuat pengajuan kredit baru disikapi lebih selektif oleh bank. Kondisi ini hanya untuk memastikan calon nasabah memang mampu menyelesaikan kewajiban kreditnya.

“Kami harus lihat, perusahaannya terdampak langsung tidak dengan pandemi seperti sektor perhotelan atau dia pengusaha dan karena pandemi ini omsetnya menurun, yang seperti ini kami pasti lebih selektif karena kalau kita loloskan nanti jadinya kredit macet (NPL). Tapi kalau dia PNS atau pegawai BUMN yang penghasilannya tidak terganggu pasti kita approve,” jelasnya.

Yanti juga memastikan situasi ini tidak permanen tapi hanya unsur kehati-hatian yang memang harus dijalankan oleh setiap bank penyalur kredit. Hal ini terkait pertanggungjawaban dana masyarakat yang digunakan. Bila situasi membaik atau calon debitur bisa membuktikan kemampuannya, tidak ada alasan bagi bank untuk me-reject pengajuan kredit masyarakat.


Sumber: Saat Pandemi Bank Lebih Ketat Salurkan Kredit, Ini Alasannya | Pasar Properti | Rumah.com

Post a Comment

0 Comments