Jalanan DKI Mulai Macet & Penumpang MRT Melonjak, Tanda Apa?


Aktivitas lalu lintas di DKI Jakarta kian macet parah, dan saat bersamaan angka kenaikan pengguna MRT Jakarta juga mengalami lonjakan. Apakah aktivitas benar-benar mulai menuju normal?

"Bulan Januari kita mulai menunjukkan tanda-tanda yang membaik. Jadi di bulan Maret ini kita sudah mencapai di atas 20 ribu (penumpang). Kadang-kadang kalau di hari sibuk bisa sampai 24 ribu, kalau weekend 18 ribu. Jadi bervariasi antara 18 ribu sampai ke 24 ribu," kata Direktur Utama PT MRT Jakarta William P. Sabandar dalam diskusi virtual, Rabu (17/3/2021).

Hal ini berkebalikan dengan kondisi tahun lalu, penurun rata-rata harian penumpang sempat terjadi satu tahun silam. Pada Januari 2020, rata-rata satu hari ada 85.105 penumpang di MRT Jakarta. Bulan selanjutnya naik menjadi 88.444 penumpang/hari. Namun di Maret atau ketika pertama kali kasus Covid-19 diumumkan, ada penurunan tajam menjadi 46.279/hari penumpang dan April menjadi 4.059 penumpang/hari.

Bulan Mei menjadi angka terendah sepanjang sejarah dua tahun MRT beroperasi, yakni hanya mengangkut 1.405 penumpang. Seiring adanya kampanye new normal medio bulan Juni 2020, ada peningkatan menjadi 11.151 penumpang/hari.

Trennya terus berlanjut, rata-rata penumpang harian MRT Jakarta meningkat menjadi 13.694 orang. Kemudian, di bulan Februari 2021 naik lagi menjadi 16.812 orang. Di bulan Maret ini semakin menanjak menjadi 20.728 orang per hari.

"Ini pertama kali sejak Maret 2020, MRT mulai mencatatkan kenaikan ridership yang cukup signifikan," tambahnya.

Jika menarik lebih jauh, hampir dua tahun resmi ada di Indonesia, MRT telah mengangkut sebanyak 35,5 juta penumpang selama dua tahun melayani pengguna jasa sampai 16 Maret 2021, atau mulai dari 24 Maret 2019.

"Selama dua tahun ini kita mengangkut penumpang sekitar 35,5 juta orang. Memang menurun di tahun lalu, namun ini pencapaian yang luar biasa di tengah pandemi," katanya.

Bawa Sepeda Nonlipat ke Dalam MRT

PT. MRT Jakarta akhirnya mengizinkan masyarakat agar bisa membawa sepeda. Selama ini, goweser memang sudah bisa membawa sepeda ke dalam MRT, namun hanya dikhususkan bagi sepeda lipat. Nantinya selain sepeda lipat juga akan mendapatkan izin.

Direktur Utama PT MRT Jakarta William P. Sabandar menyebut pihaknya sedang menggodok kebijakan ini. Tujuannya mendukung gerakan bersepeda di DKI Jakarta. Dalam waktu dekat, aturan ini sudah mulai terimplementasikan.

"Apabila yang dinaiki bukan folded bike, memang harus dipersiapkan dengan hati-hati, tapi kami ingin laporkan dulu persiapannya. Softlaunching direncanakan di 24 Maret pada tiga stasiun," katanya dalam diskusi virtual, Rabu (17/3/2021).

Adapun tiga stasiun tersebut adalah Lebak Bulus Grab, Blok M BCA, dan Bundaran HI. Sementara tanggal 24 Maret menjadi pilihan karena merupakan momen dua tahun ulang tahun MRT sejak peresmian 24 Maret 2019 lalu.

"Nantinya akan ada gerbong khusus yang akan kita peruntukan. Ini sedang kita godok konsepnya. Dengan inisiatif ini, Jakarta akan semakin ramah bukan hanya pada pejalan kaki, melainkan juga para pesepeda," ujar William.

Selama ini, sepeda lipat memang memiliki izin untuk masuk ke dalam MRT, namun itu pun harus sesuai syarat, misalnya dimensi tidak melewati 200 cm x 55 cm x 120 cm dengan lebar ban maksimal 15 cm.



Sumber: Jalanan DKI Mulai Macet & Penumpang MRT Melonjak, Tanda Apa? (cnbcindonesia.com)

Post a Comment

0 Comments