Google Hemat Rp 14 Triliun Setelah Setahun Terapkan 'Work From Home'

Meski menghemat lebih dari US$ 1 miliar atau setara Rp 14 triliun selama setahun menerapkan Work From Home, Google berencana kembali ke kantor dan menerapkan skema kerja hybrid akhir tahun ini.


Raksasa teknologi Amerika Serikat, Google mampu menghemat lebih dari US$ 1 miliar atau Rp 14,4 triliun setelah setahun menjalani skema bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH) kepada karyawannya. Namun, seiring pandemi Covid-19 yang mereda, Google berencana kembali ke kantor akhir tahun ini dan menerapkan skema kerja hybrid.

Dalam laporan keuangannya, tercatat bahwa Google memotong beberapa pengeluaran rutinnya selama pandemi, seperti pemasaran hingga kebutuhan pekerjanya di kantor. Padahal, Google terkenal dengan berbagai fasilitas yang memanjakan karyawannya, seperti meja pijat, katering makanan dan lainnya. Fasilitas itu juga telah memengaruhi banyak budaya kerja di Silicon Valley.

Biaya perjalanan dan hiburan Google untuk karyawannya pada kuartal I 2021 juga turun US$ 371 juta. Penghematan tersebut mengimbangi banyak biaya yang timbul karena Google mempekerjakan ribuan pekerja lagi. Kehati-hatian Google terhadap Covid-19 juga memungkinkan perusahaan untuk menjaga biaya pemasaran dan administrasi secara efektif.

"Secara tahunan itu akan menjadi hemat lebih dari US$ 1 miliar," dikutip dari Bloomberg pada Kamis (29/4).

Meski tidak membiayai lagi fasilitas di kantor untuk karyawannya, Google juga sebenarnya menanggung pembelian perangkat untuk keperluan WFH bagi karyawannya. Nilainya dapat mencapai US$ 1.000 atau sekitar Rp 14,7 juta untuk satu karyawannya.

Google tercatat sebagai salah satu perusahaan yang pertama kali menerapkan skema WFH. Namun, Google berencana kembali ke kantor akhir tahun ini.

Chief Financial Officer Ruth Porat mengatakan kepada investor bahwa perusahaan sedang merencanakan model hybrid untuk skema bekerja karyawannya. Google juga akan mengetatkan aturan protokol kesehatan di kantornya jika sudah ada sebagian karyawan masuk kantor.

Di sisi lain, induk perusahaan, Alphabet mengatakan dalam laporan keuangannya bahwa perusahaan mengalami pertumbuhan pendapatan sebesar 34% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi US$ 55,31 miliar atau Rp 800 triliun pada kuartal pertama.

Peningkatan pendapatan perusahaan terdorong oleh permintaan iklan online pada mesin pencarian Google dan YouTube, serta perkembangan lini bisnis cloud. Pendapatan periklanan Google naik 32%. Sedangkan, bisnis cloud tumbuh 46%.

"Selama setahun terakhir, orang-orang telah beralih ke pencarian Google dan banyak layanan online lainnya untuk tetap mendapat informasi, terhubung, dan terhibur," kata CEO Google Sundar Pichai dikutip dari CNN pada Kamis (29/4).

SensorTower memproyeksikan pendapatan App Store dan Google Play mencapai US$ 270 miliar pada 2025, yang diperoleh dari pengeluaran pengguna untuk pembelian aplikasi.

Post a Comment

0 Comments