Generasi Muda Menjadi Petani Mandiri di Era Revolusi Industri 4.0

 


Lalu Bio-technology, perkembangan bioteknologi bukan hanya masalah membuat gen baru, tetapi pemanfaatan agen hayati, mikrobia, dan sebagainya yang dapat meningkatkan produksi pertanian, memberikan multivitamin bagi tanaman bahkan agen hayati kitosan dapat digunakan untuk memperpanjang masa simpan.

Kemudian Internet of things, semua informasi, aplikasi, penggunaannya berbasis internet. Dengan berbasis internet maka akan mudah mendapatkan segala informasi, data dan bahkan interaksi antar petani. Namun, yang menjadi permasalahan adalah apakah informasi tersebut telah atau dapat diakses oleh petani kita. Internet of things telah menjadi perantara bertemunya pelaku usahatani, pelaku penyedia faktor produksi, pedagang hasil pertanian dan konsumen secara langsung. Langsung yang dimediasi dengan alat yang namanya internet.

Jika pemasaran tadi fokusnya adalah pada kebutuhan dan preferensi konsumen, maka pelaku usahatani (petani) dapat merencanakan tanam komoditas tertentu berdasarkan permintaan konsumen. Pasar dan pemasaran sekarang sangat transparan. Perantara dalam pemasaran tidak bisa dengan mudah mempermainkan harga, karena informasi telah sangat banyak bertebaran di internet, hanya bagaimana kita mengaksesnya. Jika pertanian di Era 4.0 ini demikian canggihnya, pastinya membawa angin segar bagi petani muda di Indonesia. Petani yang berjiwa muda juga akan lebih baik lagi kedepannya dalam melakukan industri pertaniannya.

Petani di Era 4.0 adalah petani yang mempunyai literasi media (melek media) yang baik dengan cara memanfaatkan media dengan bijak, program aplikasi fitur yang dimanfaatkan di media adalah program atau aplikasi atau fitur yang produktif, bukan lagi hanya sekedar entertainment tetapi juga edutainment. Petani diharapkan mampu mencari informasi dengan penggunaan kata kunci yang sesuai, setelah mendapatkan informasi maka berusaha untuk memahami dan mengevaluasi kebenaran informasi tersebut.

Dukungan literasi media dan literasi informasi ini dapat menjadi faktor pendorong bagi petani untuk mengaplikasikan pertanian inovatif. Pertanian inovatif ini dapat mengubah pandangan pertanian menjadi gaya hidup modern. Pertanian inovatif seperti hidroponik yang dapat menyajikan sayur segar dari ruang di dekat mereka akan menerbitkan semangat generasi muda dalam berpartisipasi di sektor pertanian. Perlu juga insentif dengan mempermudah akses permodalan pertanian.

Yang selanjutnya adalah networking. Di Era 4.0 ini networking menjadi sangat penting, dimana menjadi petani mandiri harus mempunyai network kemitraan pada banyak kalangan. Kemitraan, promosi dan penjaminan kualitas produk merupakan wrap up dari keberhasilan usahatani di Era 4.0 ini. Di Era 4.0 ini merupakan peluang yang sangat besar bagi petani muda dan regenerasi SDM pertanian. Pertanian tidak lagi mempunyai citra kotor, penuh resiko dan sulit. Dengan bantuan internet, aplikasi atau alat, dan bio-teknologi akan mendorong serta memudahkan usahatani pertanian. Kuncinya adalah petani mau mencari dan memanfaatkan informasi, berkreasi dengan pertanian inovatif, mau berkembang bersama komunitasnya dan memperluas jaringan. Dengan begitu kesejahteraan petani akan dapat meningkat. Oleh karena itu, mari siapkan diri kita sebagai generasi muda bangsa menjadi petani mandiri di era 4.0.

Sumber : https://www.kompasiana.com/jojojonathannn/6082d6ded541df24fa4202a2/generasi-muda-menjadi-petani-mandiri-di-era-revolusi-industri-4-0?page=all#sectionall

Post a Comment

0 Comments