Digitalisasi Bangkitkan Sektor Pariwisata di Tengah Pandemi



REPUBLIKA.CO.ID, OLEH Sapto Andika Candra
Tak salah barangkali kalau menyebut sektor pariwisata menjadi yang paling terdampak pandemi Covid-19. Nihilnya penerbangan langsung dari luar negeri ke 'hotspot' turisme nasional seperti Bali membuat industri pariwisata sempat nyaris lumpuh.

Hilangnya jutaan wisatawan asing sejak 2020 lalu, membuat tak sedikit pekerja sektor ini yang terdampak. Menurut data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per Oktober 2020, sedikitnya 248.000 pekerja bidang pariwisata yang terkena imbas langsung seperti pemutusan hubungan kerja (PHK) atau dirumahkan.

Kondisi ini tentu sangat disayangkan. Apalagi sektor pariwisata, sebelum pandemi, menyumbang devisa negara hingga 20 miliar dolar AS per tahunnya. Tapi apa mau dikata, pemulihan sektor pariwasata sangat bergantung kepada pengendalian pandemi.

Bulan demi bulan berlalu, pelaku pariwisata mulai memutar otak untuk bisa beradaptasi dengan new normal. Perlahan, angka kunjungan wisatawan mulai meningkat. Meski belum normal, namun kondisi ini merupakan angin segar bagi insan pariwisata. Turis domestik pun menjadi primadona.

Salah satu wujud adaptasi yang dilakukan oleh pelaku pariwisata adalah menyediakan fasilitas atau perubahan layanan dengan protokol kesehatan ketat. Hospitality yang sebelumnya ditonjolkan pelaku perhotelan dengan layanan manual, kini digeser menjadi serbadigital dengan mengurangi kontak fisik.

Senior Advisor Profesional IT Bali, Armika Jaya, mengungkapkan, transformasi digital merupakan keharusan bagi pelaku sektor pariwisata. Menurutnya, adaptasi melalui teknologi informasi ini perlu dilakukan untuk kembali menggaet kepercayaan wisatawan. Prinsipnya, protokol kesehatan dipatuhi, wisatawan tenang, industri bangkit.
"Kita harus hidup bersama pandemi ini, makanya muncul new normal di mana kita buat standar operasi baru," kata Armika dalam sebuah diskusi virtual yang digelar Lintasarta, awal tahun ini.

Beberapa transformasi digital yang perlu dilakukan pelaku perhotelan misalnya, antara lain pengecekan suhu tubuh secara otomatis bagi setiap tamu, fasilitas check in yang bisa dilakukan secara mandiri oleh tamu, hingga sistem pemesanan makanan dan pembayaran yang dilakukan melalui satu aplikasi.

"Ke depan, dari aplikasi mobile kita bisa self check in. Kalau kunci masih berupa fisik, kita sediakan vending machine. Kalau kunci kamar sudah otomatis pakai aplikasi, maka tamu bisa langsung masuk dengan kode yang tersedia. Semuanya tanpa kontak," kata Armika.

Saat di kamar pun, tamu tidak akan lagi menemukan menu makanan atau pilihan layanan spa di atas kertas. Keberadaan kertas ini dianggap berpotensi menularkan virus karena kerap disentuh oleh tamu lain. Demi mengurangi risiko ini, maka seluruh menu dan fasilitas lain dari hotel akan disediakan melalui QR Code yang bisa dibuka oleh tamu melalui ponsel.

"Bisa booking dari sana. Dan itu terintegrasi dengan payment gateway. Semua payment ke depan akan online. Entah kartu kredit atau fintech berupa OVO atau Gopay," kata Armika.

Namun tantangannya, pihak hotel tidak akan mampu menjalankan seluruh transformasi itu sendirian. Dibutuhkan pihak eksternal sebagai mitra kerja yang membantu pelaksanaan perubahan layanan menjadi serbadigital. Lintasarta, sebagai perusahaan Total Solutions Informastion and Communication Technology (ICT) kemudian muncul menangkap peluang.

Lintasarta menawarkan beragam solusi ICT yang dapat dipakai di sektor pariwisata dalam menghadapi new normal di tengah pandemi. VP Lintasarta Region Bali Nusa Tenggara, Gde Made Budi Antara, mengapresiasi semangat pelaku pariwisata di Bali untuk bangkit.

"Optimisme ini membuat Lintasarta terpacu berperan berikan solusi," kata Budi.

Lintasarta, ujar Budi, menawarkan tiga platform solusi dalam transformasi digital sektor pariwisata ini. Pertama, penerapan protokol kesehatan dalam pelayanan tamu atau operasional hotel lainnya. Teknologi yang dikembangkan berorientasi kesehatan.

Salah satu contohnya adalah penerapan kamera thermal yang lebih efektif ketimbang thermo gun biasa. Teknologi ini secara otomatis mampu mendeteksi suhu tubuh para tamu, pekerja hotel, hingga memberikan peringantan apabila terdeteksi adanya kerumunan di atas normal.

Platform kedua, menurutnya, adalah teknologi digital. Pada bagian ini, Lintasarta mulai masuk ke dalam pemanfaatan aplikasi terintegrasi dalam memberikan pelayanan kepada tamu, seperti sistem self-check in hingga pemesanan makanan dan fasilitas lain di hotel.

"Kita punya brand namanya SKOTA. Aplikasi yang kita kembangkan khusus untuk hospitality. Itu bagaimana kita menunjukkan ke consumer journey, mulai dari check in, saat tinggal di hotel, sampai selesai lewat aplikasi ini," kata Budi.

Platorm ketiga, cost efficiency atau efisiensi biaya. Lintasarta, ujar Budi, memahami bahwa momentum pandemi bukan periode yang mudah bagi pelaku pariwisata. Termasuk apabila harus memulai transformasi digital ini. Karenanya, Lintasarta menawarkan sejumlah opsi yang tidak akan membebani pelaku pariwisata dalam melakukan transformasi digital.

"Terakhir, kalau kita lihat teknologi yang banyak tentu hospitality melihat waduh teknologi ini cost-nya tinggi atau enggak. Makanya pendekatan terakhir kami siapkan teknologi yang cost efficiency. Karena semua shifting ke digital, ada beberapa resources yang sharing," kata Budi.

Lintasarta pun menyediakan managed service SD-WAN, yang membantu perusahaan atau pihak hotel menyediakan infrastruktur jaringan, perangkat SD-WAN, tenaga ahli profesional, serta monitoring dan pemeliharaan perangkat lain.
Seluruh solusi yang ditawarkan Lintasarta ini diharapkan mampu membantu pelaku pariwisata, baik di Bali atau wilayah lain di Indonesia, untuk kembali bangkit. Tujuannya adalah meraih kembali kepercayaan wisatawan agar nyaman dalam menggunakan jasa pelaku pariwisata.

Berharap Pariwisata Pulih

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, dalam sebuah kesempatan pada Februari lalu, sempat menyampaikan optimismenya terhadap pemulihan industri pariwisata nasional. Menurutnya, pemulihan kunjungan wisatawan domestik akan berlangsung dalam enam hingga 12 bulan ke depan. Baru setelahnya diyakini akan terlihat pemulihan kunjungan turis asing.

Namun, ujar Sandiaga, upaya pemulihan sektor pariwisata ini perlu dibarengi dengan inovasi yang dilakukan oleh para pelaku usaha. Salah satunya, dengan transformasi digital dalam melakukan adaptasi dan kolaborasi dalam meraih kepercayaan wisatawan.

“Adaptasi berkaitan dengan survival, bisa beradaptasi dengan protokol kesehatan. Langkah kolaborasi ini sangat cocok," katanya.

Post a Comment

0 Comments