9 Ketakutan yang Bisa Terjadi Padamu setelah Pandemik Ini Berakhir


Ada alasan mengapa kehidupan kita saat ini disebut new normal. Pandemik COVID-19 mengubah kehidupan kita dalam berbagai aspek. Kita harus pakai masker saat keluar rumah, jaga jarak, menjauhi kerumunan, dan sebagainya. Selama adaptasi itu pula, banyak yang mengisolasi diri dan membuat kita jarang berinteraksi dan bertatap muka langsung dengan orang lain.

Ternyata, berkurangnya frekuensi tatap muka ini cukup memengaruhi kondisi psikis. Kita mungkin jadi lupa tentang cara mengobrol yang benar dan muncul kecemasan dalam upaya berkomunikasi. Pada akhirnya, itu bisa mengubah cara kita berkomunikasi.

Berikut ini adalah beberapa kebiasaan interaksi yang diyakini akan berubah di masa new normal, serta ketakutan yang bisa terjadi bahkan setelah pandemik berakhir.

1. Kontak Mata
Seperti yang banyak orang katakan: mata adalah jendela jiwa, yang berarti ada banyak yang bisa disampaikan lewat bertatap mata. Dengan kondisi wajib menggunakan masker, yang secara tidak langsung menyembunyikan ekspresimu, tidak mengagetkan apabila saat ini kamu merasa kesusahan berbicara sambil menatap mata lawan bicaramu.

2. Berada di Keramaian
Dulunya berada di tengah kerumunan bukanlah sebuah masalah besar, dalam arti tak perlu khawatir terpapar penyakit. Namun, sekarang itu tak lagi berlaku. Keramaian akan membuatmu tak nyaman, khawatir, dan takut akan penularan COVID-19.

Perasaan tersebut tak hanya dialami orang-orang yang memiliki gangguan kecemasan, tetapi orang-orang pada umumnya.

3. Menjabat Tangan dan Berpelukan
Jabat tangan dan berpelukan adalah beberapa cara berkomunikasi. Semenjak pandemik, keduanya dihindari karena adanya risiko penularan COVID-19. Tak mengagetkan kalau sekarang sentuhan bahu oleh orang yang tak dikenal membuatmu ketakutan.

4. Mengajak Kencan Seseorang
Tahun 2020 banyak mengubah hubungan asmara seseorang dan tak sedikit yang mencari hubungan baru. Sayangnya, kondisi pandemik saat ini memaksa kamu untuk mencari pasangan lewat dunia maya. Bagi beberapa orang, itu tak cukup. Namun, menjadi dilema bagi mereka yang ingin bertemu langsung karena adanya risiko penularan COVID-19.

5. Hubungan yang Lebih Intim
Anggap saja jika kencan saja susah, bagaimana menjalin hubungan yang lebih serius? Belum lagi harus cemas apakah orang yang disukai ini berisiko menularkan COVID-19 atau tidak, bagaimana perilaku dan mobilitasnya selama pandemik, apakah patuh protokol kesehatan atau tidak, atau orang tersebut orang tanpa gejala atau tidak.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut seakan menjadi dinding pembatas.

6. Berbagi Tempat Umum
Kita tahu saat ini menjaga jarak adalah salah satu cara mencegah penularan COVID-19. Namun, bagaimana bila kamu sedang dalam situasi di tempat umum atau saat menggunakan fasilitas umum, seperti bangku di taman? Bukankah mau tak mau kamu harus berbagi? Walau berbagi dan jaga jarak atau bergantian menggunakannya, tetap saja ada rasa takut akan risiko tertular.

7. Berbagi Barang Atau Alat Pribadi
New normal membuat sangat menjaga barang-barang pribadinya dan itu secara tak langsung mengubahmu menjadi seorang individualis. Tak mengagetkan kalau ada seseorang yang ingin meminjam barangmu, kamu enggan membolehkannya.

8. Menggunakan Layanan Umum yang Berhubungan Langsung dengan Kontak Badan

Apakah kamu dulunya senang melakukan pijat atau pergi ke tempat spa? Kemungkinan besar sekarang itu adalah aktivitas yang dihindari karena adanya risiko penularan dari tamu lain atau terapisnya.

Bila memang sangat ingin, coba cek apakah fasilitas spa atau pijat yang akan kamu datangi benar-benar memperhatikan protokol kesehatan atau tidak.

9. Kembali ke Kantor
Pada kondisi new normal, kamu yang harus bekerja di kantor juga harus menyesuaikan diri. Rasa khawatir akan penularan tentu ada, apalagi dengan penambahan angka kasus harian yang tidak sedikit.

Ketakutan-ketakutan ini bisa terjadi padamu jika sebelumnya sudah ada masalah mental
Membicarakan kekhawatiran dan ketakutan tidaklah berlebihan, apalagi di masa-masa sekarang, yang memang jadi lebih mudah dialami banyak orang.

Berbicara dengan Toetiek Septriasih, M.Psi, Psikolog, jika seseorang banyak mengalami ketakutan ini ada indikasi orang tersebut mengalami gangguan obsesif kompulsif (OCD), cleaning rituals, trauma, atau gangguan kecemasan.

Untuk mengatasi ketakutan-ketakutan ini tidak serta-merta bisa diaplikasikan secara praktis dan berubah secara otomatis. Diperlukan waktu dan cara yang berbeda untuk tiap orangnya demi bisa menerima kenyataan yang tidak bisa diubah.

“Yang jadi concern di sini adalah bagaimana caranya bagi mereka untuk menerima kondisi (new normal) ini karena itu sudah menjadi keharusan kalau mau waras. How-to-deal-nya itu yang butuh edukasi,” terangnya.

Pada akhirnya, ketakutan-ketakutan ini memang harus dilawan dengan cara perlahan-lahan. Mulailah dengan beradaptasi dengan kondisi dan menerima kenyataan yang tidak bisa diubah. Perlu waktu memang, tapi itu bisa dilakukan jika kamu mau. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan ahli kejiwaan profesional bila memang kamu memerlukannya.


Sumber: 9 Ketakutan yang Bisa Terjadi setelah Pandemik Ini Berakhir (idntimes.com)

Post a Comment

0 Comments