Xendit Komitmen Bangun Infrastruktur Digital Indonesia

Merchant Appreciation Day yang digelar Xendit, Jumat 5 Maret 2021. (Foto: dok)

Xendit, perusahaan teknologi finansial yang menyediakan solusi pembayaran, memiliki komitmen untuk terus mengembangkan layanan dan produk guna memberikan dukungan terbaik bagi pelaku bisnis di Indonesia, khususnya yang telah menjadi merchant-merchant Xendit.

Setelah beroperasi selama hampir enam tahun, untuk pertama kalinya Xendit mengadakan acara Merchant Appreciation Day, Jumat (5/3/2021) di Jakarta melalui platform konferensi online untuk memberikan penghargaan kepada mitra bisnisnya yang telah bekerjasama dan menunjukkan pertumbuhan yang signifikan selama bermitra dengan Xendit.

“Xendit berkomitmen untuk terus tumbuh bersama mitra bisnis kami dengan tujuan untuk membangun infrastruktur digital Indonesia. Kami telah membantu sistem pembayaran lebih dari 2,000 merchant, sehingga para mitra bisnis kami dapat fokus mengembangkan bisnis mereka. Merchant Appreciation Day ini ditujukan bagi para mitra bisnis Xendit yang telah menunjukkan performa sangat baik di 2020. Di tengah pandemi ini, kami melihat banyak bisnis bermunculan, dan bisnis menjadi lebih inovatif dalam kampanye pemasaran mereka, bahkan pelaku bisnis pun meningkatkan standar dan kualitas kinerjanya selama pandemi. Segala upaya yang telah dilakukan oleh para pelaku bisnis ini perlu diapresiasi," kata CEO dan Co-Founder Xendit, Moses Lo.

Sementara itu Filianingsih Hendarta, Asisten Gubernur & Kepala Departemen Sistem Pembayaran Bank Indonesia, memberikan pemaparan melalui tema “Ekosistem Ekonomi dan Keuangan Digital 2025”. Dalam paparannya Filianingsih menyebutkan bahwa kemampuan adaptasi dunia usaha terus diuji untuk bertahan dan bangkit di era next normal.

“Oleh karena itu, Bank Indonesia terus bersinergi dan berupaya bersama dengan pemerintah dan tentunya dengan dukungan dunia usaha. Transaksi digital di Indonesia senantiasa tumbuh positif, kami melihat banyak peluang di pasar digital. Bank Indonesia melihat kesempatan pemanfaatan digitalisasi yang diharapkan dapat menjadi salah satu solusi mempertahankan produktivitas ekonomi Indonesia.” ujarnya.

Acara dilanjutkan dengan diskusi panel bertema “Bagaimana Menjadi Bisnis yang Tangguh”. Diskusi ini menjadi sangat relevan dengan cerita sukses dan tips dari pembicara yang menginspirasi bisnis untuk terus bertumbuh meskipun di masa yang sedang sulit.

Sementara itu Gita Wirjawan mengungkapkan bahwa pelaku bisnis harus memiliki kelincahan dan kerendahan hati dengan memiliki strategi dan pemikiran bisnis jangka panjang. Di sisi lain, bisnis kita harus memiliki main chores yang dapat bermanfaat bagi masyarakat luas.

“Hal yang menarik lainnya adalah untuk memiliki Chief Worry Officer agar dapat menghindari arogansi dan mempercepat datangnya umpan balik terhadap bisnis kita.” saran Gita Wirjawan.

Menurut Miranda Goeltom, ekonomi berbasis digital di Indonesia terus mengalami peningkatan yang pesat dan diperkirakan akan naik 3 hingga 4 kali lipat dalam 5 tahun ke depan. Hal ini tentunya dapat dimanfaatkan tidak hanya oleh pemerintah, namun juga bagi para pelaku bisnis yang diharapkan dapat menjadi kreatif dan eksploratif dalam melihat segala kemungkinan.

“Penting bagi pebisnis untuk melihat segala kesempatan yang ada. Dibutuhkan keterampilan, perluasan jaringan, dan modal pendanaan baru yang selalu bertumbuh sesuai dengan kebutuhan yang ada di pasar.
” sambungnya.

Yukka Harlanda, Co-Founder dan CEO dari Brodo berbagi kisah dan inspirasi agar bisnis dapat bertahan di tengah pandemi. “Pada awal pandemi Covid-19 di Indonesia, saya dan Co-Founder Brodo memiliki stamina dan optimisme kuat agar dapat mempertahankan bisnis. Kami terus melakukan transparansi dalam hal komunikasi dengan tim agar tercipta kesadaran bersama akan kondisi dan dampak yang mungkin kami hadapi. Bersama tim, kami terus menggali kesempatan yang ada di depan mata, khususnya, bagi bisnis ritel,” ujar Yukka.

Melisa Irene, Partner di East Ventures melihat perkembangan funding yang masuk ke Indonesia mengalami percepatan. Hal ini tentunya mempercepat keadaan bisnis di beberapa industri. Namun, pandemi Covid-19 di Indonesia sangat berdampak di beberapa industri. Tidak hanya menimpa sektor kesehatan, melainkan pula sektor travel dan pendidikan. Di sisi lain, industri e-commerce, logistic, dan fintech terus berinovasi agar mampu bertahan.

“Saat melihat hal tersebut, yang kami lakukan sebagai Venture Capital adalah mendorong para pebisnis untuk membuat paranoid planning agar dapat memprediksi pendapatan bisnis mereka, apa saja hal-hal yang bisa dikesampingkan dulu untuk bertahan, dan mengamati kesempatan apa yang dapat dioptimalkan,” ungkap Melisa.

Acara ditutup dengan penyerahan penghargaan kepada mitra bisnis Xendit yang terbagi dua kategori SME dan Enterprise untuk setiap penghargaanya. Pemenang tersebut yaitu Everlash dan TADA (Most Innovative Campaign), The Fragrance Shop dan Rekeningku.com (Most Collaborative Merchant), RateS Indonesia dan Bukuwarung (The Rising Star), Tenue de Attire dan Ninjavan (The Fullstack Merchant) serta Boleh Dicoba Digital (Most Collaborative Partner).

“Agar dapat bertahan di era new normal ini, penting bagi bisnis untuk terus berinovasi agar tetap dapat menjadi bisnis yang relevan. Bangun apa yang pelanggan inginkan dan butuhkan. Salah satu cara adalah mendengarkan umpan balik pelanggan dan menjadikannya basis untuk membangun produk yang sesuai dengan kebutuhan mereka,” tutup Tessa di akhir sesi acara.


Post a Comment

0 Comments