Satu Tahun Pandemi, Sekolah Bukan Satu-satunya Tempat Belajar

Ilustrasi siswa SD.(Dok Disdikbud Bulungan)

Sudah hampir genap satu tahun pembelajaran jarak jauh (PJJ) dilakukan guna mencegah penularan Covid-19 di lingkungan sekolah. Meski kesehatan menjadi fokus utama selama pandemi, namun PJJ yang terlalu lama nyatanya menghadirkan sejumlah kendala dari beragam sisi, baik dari siswa, guru maupun orangtua. 

Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sekaligus pengamat pendidikan Prof Dinn Wahyudin mengatakan, dalam sebuah riset, Unesco mendapati adanya indikasi defisit kompetensi atau menurunnya hasil belajar siswa selama pandemi Covid-19. Defisit kompetensi atau menurunnya hasil belajar siswa ini tak hanya terjadi di Indonesia, namun hampir semua siswa di dunia.

"Diakui bahwa dengan (pembelajaran) daring ini, walaupun memanfaatkan teknologi, secara nasional atau internasional ada indikasi defisit kompetensi, artinya menurunnya hasil belajar siswa. Itu bukan di Indonesia saja, di dunia juga," paparnya kepada Kompas.com, Senin (8/2/2021). 

Oleh sebab itu, paparnya, bila tidak ada kerja keras yang luar biasa dari siswa, guru dan orangtua, dikhawatirkan defisit kompetensi tersebut akan semakin membengkak. 

Fokuskan pada kompetensi, tak sekadar nilai Meski ada risiko yang mungkin timbul dengan PPJ yang terlalu lama, Prof Dinn mengatakan ada empat strategi pembelajaran yang bisa diterapkan di era new normal, yakni tatap muka, daring, mandiri dan kolaboratif. Di saat pembelajaran tatap muka belum bisa dilakukan di tengah pandemi, maka tiga strategi perlu diupayakan.

Pembelajaran daring, kata dia, kini menjadi pilihan yang paling banyak dilakukan di tengah pandemi Covid-19. Hanya saja, pembelajaran ini tak bisa diterapkan pada semua daerah maupun siswa. 

"Perlu diakui tidak semua sekolah, tidak semua siswa mendapatkan layanan daring ini. Bagi daerah tertentu, khususnya daerah 3T, pembelajaran maya ini ibarat mimpi di siang bolong, hampir tidak mungkin karena fasilitas komunikasi yang tidak ada," paparnya. 

Untuk itu, Prof. Dinn menekankan perlu dilakukan strategi atau opsi pembelajaran berikutnya, yaitu pembelajaran mandiri (self mode of learning) serta pembelajaran kolaboratif. 

"Belajar di abad 21, siswa sudah harus dicoba untuk belajar mandiri. Belajar mandiri ini menjadi opsi selain belajar tatap muka," imbuh dia. 

Pembelajaran mandiri maupun kolaboratif dapat dilakukan melalui sejumlah opsi, seperti guru berkunjung ke rumah, belajar dengan memanfaatkan lingkungan, belajar bersama orangtua, belajar melalui bahan ajar yang diberikan oleh sekolah, serta home schooling versi lokal (belajar dengan orangtua atau wali). 

Melalui guru kunjung, maka ada kesempatan bagi guru untuk memberikan bahan ajar sesuai dengan kemampuan peserta didik, hingga mengetahui kondisi keluarga siswa. Sementara itu, home schooling lokal bisa dilakukan oleh orangtua atau wali yang ada di rumah.

"Home schooling itu tidak hanya untuk urban. Saat orangtua mengajar anak di rumah sesuai dengan kemampuannya, itu sudah termasuk home schooling," terangnya. 

Bicara soal pembelajaran ideal selama pandemi, Prof Dinn menyarankan guru dan orangtua untuk fokus pada pengembangan kompetensi anak sesuai jenjang pendidikan, tak melulu pada nilai. 

"Ada kecenderungan siswa-siswa sakit karena imun rendah, tugas-tugasnya buat repot mereka, jadi terlalu dituntut banyak sehingga bisa menurunkan imun," paparnya. 

Untuk itu, saran dia, guru diharapkan lebih bijak untuk memberikan tugas yang sesuai dengan kemampuan masing-masing siswa. Semua bisa dilakukan bila guru memahami bahwa setiap siswa unik. 

"Justru, bila guru memaksa mencapai target kurikulum namun data fisik menunjukkan psikologis dan kesehatan siswa menurun dan malah berpotensi klaster (Covid-19) baru, kita yang rugi," imbuh dia. 

Fokus pada pengembangan kompetensi siswa bisa menjadi salah satu upaya yang dilakukan guru dan orangtua untuk mencegah defisit kompetensi siswa selama PJJ. Prof Dinn menyebut, untuk anak-anak usia dini atau sekolah dasar misalnya, salah satu kompetensi yang perlu ditekankan ialah keterampilan komunikasi. 

Bagaimana anak menjalin komunikasi yang baik dengan guru, orangtua dan teman-temannya. Dari komunikasi yang baik, maka anak akan lebih bisa berkolaborasi dengan lingkungan sekitar untuk bisa lebih banyak belajar. Selain itu, orangtua juga perlu memberikan dukungan bagi anak agar pembelajaran lebih menyenangkan dan menyehatkan. 

Seperti memastikan anak tetap aktif bergerak, mendorong anak membaca lebih banyak buku yang menghibur, dan berdiskusi dengan anak tentang apa yang anak rasakan maupun kesulitan belajar yang dihadapi. Meski begitu, untuk daerah 3T atau daerah terpencil, Prof. Dinn mengatakan PJJ sangat sulit dilakukan. 

Bahkan, home schooling lokal (orangtua mengajar anak) pun ditemukan sulit dilakukan. Sehingga, pemerintah diharapkan segara melakukan terobosan. Terobosan tersebut, jelas dia, salah satunya dengan memastikan kecukupan guru kunjung atau tutor kunjung untuk mengajar siswa di daerah 3T. 

"Pemerintah diharapkan menyediakan guru honor atau relawan-relawan yang direkrut yang dibekali kebutuhan pokoknya dan diberangkatkan selama setahun atau enam bulan, saya pikir itu salah satu solusi untuk daerah yang terisolasi," paparnya. 

Pemerintah daerah juga diharapkan menyiapkan buku ajar, termasuk buku ajar yang menggunakan bahasa ibu untuk siswa kelas awal, sebagai wujud kearifan lokal. Belajar tak harus di sekolah Ketua Kampus Guru Cikal sekaligus praktisi pendidikan Bukik Setiawan mengatakan, banyak orang sering kali menyamakan bersekolah dengan belajar. 

Padahal, sejumlah riset justru menunjukkan sebelum pandemi, ada banyak murid bersekolah tapi sedikit yang belajar. Artinya, anak ke sekolah belum tentu belajar. Sebaliknya selama masa pandemi, tidak bersekolah bukan berarti tidak belajar. Jadi, tidak ke sekolah selama pandemi, belum tentu menjadi penyebab“learning loss” atau defisit kompetensi. 

“Apa kondisi yang akan menghasilkan learning loss atau defisit kompetensi? Ketika anak tidak belajar selama di masa pandemi,” paparnya kepada Kompas.com, Jumat (20/2/2021). 

Menurutnya, penting bagi orangtua dan guru untuk memperhatikan apakah anak mengalami proses belajar selama di rumah. Pasalnya, proses belajar bisa dilakukan di mana saja, tidak harus di “gedung” sekolah. 

“Kita terlalu asyik mengukur sebatas pada jumlah anak bersekolah, bukan kualitas proses belajar anak,” paparnya. 

Untuk itu, Bukik menyarankan sejumlah upaya agar anak tetap menjadi pembelajar aktif, meski tidak ke sekolah. Pertama, lanjut dia, berhenti memberikan soal dan tugas pada anak. Penting untuk berhenti agar guru dan orangtua bisa fokus berempati dan memahami kebutuhan belajar anak, seperti ajak bicara anak tentang perasaannya, apa yang menjadi minatnya, dan apa yang ingin dipelajari. 

Lalu, pastikan anak mendapat stimulasi belajar yang beragam seperti membaca buku, melakukan eksperimen, mengerjakan tugas rumah tangga, menyaksikan film, mengeksplorasi topik tertentu di internet, mengajak diskusi topik yang menarik buat anak. Tak kalah penting, amati dan refleksikan perkembangan kompetensi atau kemampuan anak dari waktu ke waktu. 

“Ajak anak menilai perbedaan kemampuannya saat ini dibandingkan kemampuan 1-3 bulan yang lalu. Diskusikan perbedaannya tersebut beserta penyebab dan apa yang bisa dilakukan agar kemampuan anak terus berkembang,” sarannya. 

Setelahnya, guru dapat berkolaborasi dengan orangtua untuk melakukan asesmen otentik, yakni asesmen yang memfasilitasi murid mengekspresikan keunikan dan kemampuan dirinya untuk menyelesaikan suatu tantangan belajar dengan tetap menyesuaikan pada kondisi dan kemampuan murid serta orangtua. 

Bentuk teknisnya bisa berupa wawancara dengan narasumber, mengerjakan tugas terkait minat seperti lukisan, lagu dan lainnya, terkait pekerjaan rumah tangga atau melakukan riset sederhana. Sementara untuk anak-anak dengan keterbatasan gadget, sinyal atau fasilitas pembelajaran daring, pembelajaran bisa dilakukan individual atau kelompok kecil melalui guru kunjung. 

Kunjungan guru, terang Bukik, bukan untuk menyampaikan materi melainkan untuk mendiskusikan tugas yang telah diberikan pada kunjungan sebelumnya. Hal itu sesuai dengan semangat Guru Merdeka Belajar. Menurutnya, Guru Merdeka Belajar adalah guru yang melakukan penyesuaian pembelajaran berdasarkan kebutuhan murid dan tantangan yang dihadapi untuk mencapai tujuan pembelajaran. 

“Guru Merdeka Belajar akan mencari strategi pembelajaran yang paling mungkin dilakukan di tengah tantangan pandemi Covid-19,” ujarnya.


Sumber: Satu Tahun Pandemi, Sekolah Bukan Satu-satunya Tempat Belajar Halaman all - Kompas.com


Post a Comment

0 Comments