Mengenal Silaban Dome, Kubah Masjid Istiqlal yang Dibuat Sampai Konsultasi ke Jerman

 

Tampilan baru Masjid Istiqlal usai direnovasi, Jakarta, Kamis (7/1/2021). Renovasi ini merupakan yang pertama sejak 42 tahun lalu, dengan memaksimalkan fungsi masjid sebagai tempat ibadah sekaligus memperhatikan aspek arsitektur, seni, hingga estetika.(BIRO PERS SEKRETARIAT PRESIDEN)

Warna emas terlihat mendominasi bagian dalam kubah Masjid Istiqlal. Ukiran ayat kursi melingkari bagian dalam kubah. Di kalangan tamu asing, kubah itu dikenal sebagai Silaban Dome. Friedrich Silaban, arsitek dari Masjid Istiqlal mendesain kubah masjid berbentuk setengah bola. 

Kubah Masjid Istiqlal memiliki diameter 45 meter dan melambangkan tahun kemerdekaan Indonesia yaitu 1945. Rahil Muhammad Hasbi dan Wibisono Bagus Nimpuno dalam artikel jurnal berjudul "Dalam Pengaruh Arsitektur Modern Pada Desain Masjid Istiqlal" menyebutkan Silaban tidak menghilangkan ciri khas arsitektur khas masjid Timur Tengah. 

Silaban mengubah kubah masjid menjadi hal baru dengan bentuk yang berbeda. Ia menyajikan kubah masjid dengan bentuk yang sederhana tanpa ornamentasi di bagian luar masjid dan menyatu dengan bentuk bangunan yang modern. Rahil dan Wibisino menuliskan, Silaban menggunakan aliran rasionalist dalam merancang kubah Masjid Istiqlal. 

Silaban menggabungkan bentuk kubah yang klasik dengan teknologi dan material yang baru. Aliran rasionalist sendiri merupakan aliran arsitektur modern yang menggabungkan konsep-konsep dan pola-pola arsitektur klasik dengan metode konstruksi dari jaman revolusi industri.

Konsultasi dengan Jerman Ojak Pasu, Bedriati, Bunari dalam jurnal berjudul "Biografi Friedrich Silaban Perancang Arsitektur Masjid Istiqlal" menuliskan, rancangan langit-langit kubah Masjid Istiqlal juga sebuah polyhedron yang hampir identik dengan rangka tulang kubah betonnya. Silaban ingin menggunakan kesempatan merancang langit-langit kubah untuk mengoreksi geometri kubah yang ternyata tidak setengah bola sempurna. 

Ia ingin mengoreksi ketidaksempurnaan konstruksi dan pengerjaan kubah beton setengah bola Masjid Istiqlal. Sementara itu, penulis buku Friedrich Silaban, Setiadi Sopandi menyebut pembuatan kubah Masjid Istiqlal menggunakan struktur polyhedron. Struktur tersebut dulunya dikenal hanya bisa dilakukan oleh negara-negara maju. 

"Itu ada struktur namanya space frame atau polyhedron, yang dibentuk dari pipa-pipa baja. Yang bisa lakukan itu hanya negara-negara maju. Makanya tim pembangunan Istiqlal harus berkonsultasi dengan negara Jerman," ujar Setiadi dalam tayangan Kompas TV berjudul "Istiqlal, Silaban, dan Sejarah Negeri,".

Rancangan kubah Silaban sebenarnya tak tampak mendominasi komposisi keseluruhan masjid.

Jika dilihat dari jauh, kubah Masjid Istiqlal hanya seperti pelengkap diantara deretan kolom-kolom raksasa lainnya. Pada gambar-gambar perspektif awal perencanaan, cincin leher kubah bahkan tak terlihat. Atap kubah Masjid Istiqlal diselesaikan pada tahun 1981. Saat itu, penggunaan Masjid Istiqlal telah diresmikan Presiden Soeharto tepatnya pada tanggal 22 Februari 1978 ditandai dengan prasasti yang diupasang di area tangga pintu As-Salam.

Gaya Arsitektur Modern Ala Silaban Ketua Ikatan Arsitek Indonesia, Ahmad Djuhara dalam tayangan Kompas TV, menyebut, Silaban menggunakan gaya arsitektur modern yang melambangkan modernisasi dari Indonesia. Pengamat Sejarah dan Arsitek Senior, Bambang Eryudhawan menggambarkan cita-cita Silaban dalam dunia arsitektur Indonesia. Silaban ingin mencari bentuk arsitektur khas Indonesia. 

"Di samping gaya modern, juga mencari cara bagaimana arsitektur Indonesia ini memanfaatkan iklim Indonesia yang banyak angin. Panas tapi banyak angin," ujar Bambang dalam tayangan Kompas TV. 

Silaban berusaha meminimalkan penggunaan energi untuk pendingin ruangan. Ia ingin memanfaatkan alam sebagai bagian utama dari upaya pendinginan ruangan Masjid Istiqlal. 

"Jadi cita-cita itu diekspresikan lewat bentuk, tampak bangunan, dengan plafon yang tinggi," tambah Bambang.


Post a Comment

0 Comments