Pendapatan Masyarakat Berkurang, tetapi Konsumsi AMDK Tumbuh

/Bplh.bekasikota.go.id

Indonesia Water Institute (IWI) menyatakan ada peningkatan biaya air bersih selama pandemi Covid-19. Peningkatan konsumsi produk air minum dalam kemasan (AMDK) diduga menjadi pendorong utama peningkatan biaya tersebut.

Berdasarkan data IWI, ada sekitar 65 persen masyarakat yang melakukan transisi dari penggunaan air tanah sebagai air minum menjadi produk AMDK. Transisi terbesar terlihat pada kelompok masyarakat dengan biaya air Rp300.000—Rp1 juta per bulan. 

"Dulu, AMDK merupakan gaya hidup. Sekarang sepertinya menjadi kebutuhan hidup. Ini harus kita berikan solusi yang elegan," ucap Vice President IWI Firdaus Ali webinar "Pola Konsumsi Air Bersih Masyarakat Selama Pandemi Covid-19", Kamis (11/2/2021).

Pada masyarakat yang mengonsumsi AMDK, tercatat 88 persen menggunakan AMDK galon. Sementara itu, 12 persen lainnya menggunakan AMDK dalam berbagai macam kemasan.

Di samping itu, sebanyak 87 persen masyarakat mengeluarkan biaya konsumsi AMDK sekitar 300.000 per bulan. Adapun, sebanyak 69 persen masyarakat mengatakan mengonsumsi AMDK sekitar 51—200 liter per bulan atau setara dengan 1—10 galon per bulan. 

"[Fenomena] ini harus kita respons dengan cerdas karena kita harus masuk ke dalam new normal ketersediaan air," katanya.

Pada kesempatan yang sama, Koordinator Kebijakan Publik Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Lucia Karina mengatakan penurunan tingkat mobilitas masyarakat menurunkan konsumsi AMDK di dalam dan luar rumah.

Lucia mendata volume konsumsi AMDK di dalam rumah merosot 2 persen, sedangkan konsumsi AMDK di luar rumah anjlok 24,1 persen.

"Dengan adanya work from home dan PHK, ini mengubah yang tadinya mengonsumsi AMDK [menjadi konsumsi air tanah] karena mata pencaharian mereka berkurang," katanya.

Walakin, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (Aspadin) Rachmat Hidayat mengatakan optimistis masih dapat mencatatkan pertumbuhan volume produksi yang positif pada 2020 di tengah industri minuman ringan yang turun.

Hal tersebut disebabkan oleh jenis kemasan yang hanya ada pada industri AMDK, yakni kemasan galon. Seperti diketahui, ukuran galon memiliki volume sampai 19 liter, sedangkan ukurang botol terbesar hanya mencapai 2,5 liter.

"Secara portofolio galon menyumbang hampir 70 persen dari total volume, dan galon tumbuh baik pada 2020, dari peningkatan permintaan galon bisa mengompensasi—meskipun tidak jauh turunnya permintaan kemasan-kemasan yang lain," katanya.

Rachmat optimistis pertumbuhan permintaan galon membuat volume produksi AMDK nasional naik sekitar 1 persen secara tahunan pada 2020 menjadi mendekati 30 miliar liter. Adapun, realisasi produksi industri AMDK mencapai sekitar 29 miliar liter pada 2019. 


Sumber: Pendapatan Masyarakat Berkurang, tetapi Konsumsi AMDK Tumbuh - Ekonomi Bisnis.com

Post a Comment

0 Comments