Ahli Nilai GeNose Belum Teruji dan Rawan Penularan Covid-19

Ahli menilai penggunaan alat deteksi Covid-19, GeNose, di stasiun masih belum teruji dan rawan penularan virus corona. (CNN Indonesia/Andry Novelino)

Kepala Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Tri Yunis Miko Wahyono menilai penggunaan alat deteksi Covid-19, GeNose, di stasiun masih belum teruji dan rawan penularan.

Yunis mengatakan GeNose belum terbukti ilmiah dapat mendeteksi Covid-19, sehingga penggunaannya masih diragukan, selain dapat berdampak pada penularan Covid-19 yang lebih lebih luas. GeNose bisa mendeteksi senyawa volatile organic compound (VOC) yang merupakan hasil produksi infeksi Covid-19. Namun, menurutnya, belum dapat dibuktikan apakah setiap infeksi Covid-19 mengandung VOC.

"Iya dampak [penularan] tetap ada, karena semua alat screening Covid-19 belum tentu betul hasilnya. Tapi masalahnya GeNose ini mendeteksi VOC. Nah, itu yang belum bisa terbukti secara ilmiah," kata Yunis saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (5/2).

Penggunaan GeNose pada pelaku perjalanan orang menurut Yunis, juga tidak bisa berlaku seperti penggunaan swab antigen atau swab test. Tes GeNose hanya bisa berlaku pada sekali perjalanan serta pada hari yang sama. Hal ini berbeda dengan swab antigen/swab test keterangan suratnya berlaku selama 3 hari.

"Kalau antigen kan paling tidak berlaku 3 hari, kalau GeNose sekali masuk saja, hasilnya tidak bisa berlaku lama, begitu dia mau balik lagi, harus tes lagi," kata Yunis. 

Ia juga meminta penemu GeNose bisa membuktikan secara ilmiah apakah betul infeksi Covid-19 menghasilkan senyawa VOC. Bukti itulah yang menurut Yunis, ditunggu para ahli. Tanpa kepastian data ilmiah tersebut, banyak ahli tidak sepakat penggunaan GeNose untuk screening Covid-19.

Yunis juga membandingkan tes GeNose dengan tes antibodi yang akurasinya lebih rendah. Namun meski memiliki akurasi rendah, kandungan virus Covid-19 dalam tubuh lebih bisa dipastikan menggunakan tes antibodi ketimbang GeNose.

"Memang antibodi akurasinya rendah 80 persen, tapi logikanya kena, antibodi yang ditangkap itu antibodi terdeteksi virus, kalau GeNose belum membuktikan apa benar infeksinya menghasilkan VOC," tuturnya.

Diketahui, tes Covid-19 menggunakan GeNose kini berlaku sebagai screening orang bepergian di kereta api mulai Jumat 5 Februari 2021.

Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com di lokasi Stasiun Senen sejak pagi, warga yang hendak menggunakan KA Jarak Jauh lebih banyak memilih menggunakan tes Covid-19 GeNose ketimbang antigen.


Sumber: Ahli Nilai GeNose Belum Teruji dan Rawan Penularan Covid-19 (cnnindonesia.com)


Kata siapa UMKM tidak perlu melek keamanan siber (cybersecurity) ? Kami akan membahasnya bersama pak Didi Nurcahya, ITIL®, GSEC - di 16 Feb 2021, pastikan anda terdaftar di https://s.id/eventcerdas16feb. 


Post a Comment

0 Comments