Membangun Ketahanan Keluarga Dimasa Pandemi Dan Menyongsong Era New Normal


Penulis : Najuasah Putra.  IAIN Langsa
Kemampuan membangun ketahanan keluarga menjadi satu hal yang harus bisa diupayakan. Ketahanan keluarga merupakan kondisi dinamis suatu keluarga yang memiliki ketangguhan dan kemampuan secara fisik, psikis, mental dan spiritual sehingga mampu mewujudkan kehidupan yang mandiri, mengembangkan diri sehingga terbangunnya keluarga yang harmonis sejahtera lahir dan batin.

Ketahanan keluarga adalah kemampuan sebuah keluarga dalam menghadapi konflik yang muncul di keluarga, sehingga menyebabkan ketegangan antar anggota keluarga. Disisi lain, ketahanan keluarga juga dapat ditinjau dari keharmonisan keluarga dalam penguatan potensi anggota keluarganya demi terpenuhnya kebutuhan dan tujuan dalam keluarga. Dan hal ini penting kiranya untuk dipelajari oleh setiap pasangan keluarga yang bercita-cita ingin mengukuhkan ketahanan keluarganya adalah memahami dan menerapkan dimensi-dimensi yang saling berhubungan dalam membentuk sebuah keluarga yang tinggi resilensi.

Namun, sebagian besar banyak masyarakat yang menahan diri untuk tidak beraktivitas diluar rumah. Bekerja, belajar dan beribadah dilakukan di rumah. Sebagian lainnya pula, masyarakat juga terkena dampak pemberhentian hubungan kerja (PHK). Kondisi ini menambah berat dari sisi ekonomi. Sementara kebutuhan hidup sehari-hari terus menuntut untuk dipenuhi. Kebutuhan makanan tidak dapat ditunda. Dan semua ini menjadi tantangan besar bagi masyarakat.

Selain itu, aspek lain juga terdampak. Aspek sosial, aspek psikologis dan spiritual juga dapat dirasakan dampaknya. Secara sosial, budaya berkumpul dalam berbagai bentuk kegiatan sementara ini dihilangkan. Seperti pertemuan PKK di kampung, pengajian rutin di masjid, forum-forum kajian yang ada di masyarakat, semua terhenti untuk sementara waktu. Aktivitas sholat jamaah di masjid juga terhambat. Kalaupun datang berjamaah maka harus tetap menjaga protokol kesehatan, seperti cuci tangan, menggunakan masker, bawa sajadah sendiri, menjaga jarak dan berupaya untuk menghindari kerumunan masa, demi tercegahnya paparan virus corona yang terkadang lebih baik mengekang diri untuk di rumah saja.

Menyelamatkan anggota keluarga menjadi kewajiban orang tua. Menyelamatkan diri dan keluarga dari hal-hal yang tidak sesuai dengan syariat agama, sehingga keluarga bisa mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S : At-Tahrim ayat 6.

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَاَ هْلِيْكُمْ نَا رًا وَّقُوْدُهَا النَّا سُ وَا لْحِجَا رَةُ عَلَيْهَا مَلٰٓئِكَةٌ غِلَا ظٌ شِدَا دٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَاۤ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

Artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.

Berdasarkan situasi saat ini peran keluarga sangat berpengaruh dalam pencegahan penularan covid-19. Perlu digali berbagai strategi untuk meningkatkan ketahanan keluarga, agar masyarakat mampu bertahan hidup dan melanjutkan tugas-tugas kehidupan sebagaimana mestinya.

Ada beberapa hal dimensi yang perlu kiranya di perhatikan terkait dengan ketahanan keluarga di masa pandemi covid-19. Secara umum dapat dijelaskan sebagai berikut.

Pertama, Ketahanan psikologis yang merupakan kemampuan sebuah keluarga untuk mengelola dan membangun emosi positif dalam keluarga sehingga tercipta konsep diri yang positif. Bila anggota keluarga telah memiliki konsep diri positif maka peristiwa apapun yang dihadapi akan diterima secara positif pula. Artinya keluarga memiliki kemampuan untuk mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang terjadi, apapun bentuknya.
 
Kedua, Ketahanan ekonomi yang erat kaitannya dengan kemampuan mengelola ekonomi keluarga, sehingga kebutuhan dasar pangan, papan dan sandang dapat dipenuhi walaupun secara minimalis. Kondisi ini menuntut adanya sumber penghasilan keluarga. Dan penghasilan tidak harus menjadi bagian ASN di pemerintahan, melainkan berwirausaha dan lainnya.

Ketiga, Ketahanan sosial yang berkaitan dengan kemampuan keluarga untuk membangun sinergi dengan lingkungan sosialnya. Walaupun sebagian besar masyarakat menahan diri di rumah, namun tidak memutus jaringan komunikasi dan informasi antar warga. Dengan menjalin silaturahmi serta berkomunikasi yang baik maka terbangunlah ikatan dan komitmen untuk saling membantu, saling memberi dan saling mendukung saat ada permasalahan yang menimpa anggota keluarga lainnya.

Keempat, Ketahanan spiritual yang kaitannya dengan kemampuan keluarga untuk memahami dan menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Diawali dari praktik kehidupan dalam rumah tangga. Agama menjadi fondasi yang kokoh, sekaligus atap yang melindungi dalam mengarungi bahtera kehidupan. Agama pun menjadi benteng tumpuan serta sandaran yang kuat dan kokoh di saat menghadapi persoalan.

Beberapa hal yang dapat kita upayakan terkait membangun ketahanan keluarga. Tidak ada keluarga yang terlepas dari permasalahan dan dampak covid-19 saat ini. Namun tidak ada masalah yang tidak tersedia jalan keluarnya. Menjadi tugas bersama untuk saling bahu membahu mencari solusi agar bisa minimal bertahan di masa yang serba terbatas saat ini. Membangun ketahanan keluarga menjadi salah satu fokus perhatian agar setiap keluarga memiliki daya tahan dan daya juang dalam menghadapi tantangan saat ini. Semoga Allah beri kekuatan bagi bangsa Indonesia untuk segera keluar dari himpitan masalah pandemi covid-19 dan bisa segera bangkit membangun negeri.


Post a Comment

0 Comments