Kehidupan Pasca Vaksin


Kehidupan normal dalam new normal yang didambakan setelah datangnya vaksin ternyata harus dilupakan. Pemerintah khususnya di Ibukota negara bahkan se-Jawa dan Bali yang menjadi parameter dalam penanganan pandemi kembali menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ketat lagi dengan segala konsekuensinya. Ini sungguh mengoyak harapan kenyataan telah lebih baik.

Kesehatan pribadi warga adalah prioritas, di atas kesehatan perekonomiannya. Keterpurukan kesehatan dianggap yang jauh lebih bahaya karena terdekat kematian. Situasi keterpurukan ekonomi masih jauh dari kematian.Diberlakukan PSBB dengan nama baru semua akan diimbau #dirumahaja. Kalau pun keluar juga tidak jelas mau ke mana dan ngapain. 

Mall apalagi lokasi-lokasi liburan ditutup atau dibatasi jam operasinya. Kuliner juga hanya bisa mengakses online. Jika pun offline restoran hanya dengan kapasitas 25 persen.Jadi keadaan tidak menyenangkan. Hiburan kembali hanya akan bergantung pada digital. Tontonan menghibur hanya diakses melalui digital. Semua urusan diselesaikan melalui fitur smartphone.

Semua dipaksa diputus dengan dunia nyata. Semua perjumpaan sepenuhnya online. Daring dengan segala kekurangannya. Dengan segala bahayanya.

Sekolah, dunia kerja, beribadah, semua dari rumah. Sekolah tutup, perkantoran tutup, dan rumah-rumah ibadah ditutup. Semua me-lockdown diri di rumah.

Keluarga jadi orang yang sering ditemui di keseharian. Akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan mereka. Ini barangkali yang sejatinya positif di balik peristiwa pandemi. Entah sampai kapan begini. Barangkali setelah semuanya divaksin yang artinya 3 tahun lagi. Duh.


Post a Comment

0 Comments