Energi Positif untuk Indonesia

Foto ilustrasi: AP Photo

Indonesia dalam tahun 2021 menghadapi tantangan yang seharusnya tidak lebih berat dari tahun sebelumnya. Sebab, pada 2020 maupun sebelumnya Indonesia telah mengalami jatuh bangun dari pengalaman menangani berbagai masalah; banyak pelajaran yang diambil untuk menyelesaikan masalah-masalah yang muncul. Salah satunya adalah penanganan pandemi, walaupun sejujurnya masih banyak masalah yang sama pentingnya dengan penyelesaian wabah itu sendiri.

Artinya, selain menyelesaikan pandemi, Indonesia harus menyelesaikan banyak hal lain yang sama-sama sebagai sumber penghalang kemajuan sebuah negara. Jadi, PR bangsa ini bukan sekadar memberikan vaksin. Pandemi ini seperti layaknya bola salju yang menggulung segala aspek kehidupan, terutama aspek ekonomi dan politik. New normal yang pernah dijadikan slogan rupanya tidak berlaku dalam aspek-aspek tersebut, namun justru benar-benar mengubah perilaku secara psikologi dan sosial.

Ketakutan secara psikologis akhirnya berujung dengan kecuekan dan ketidakpedulian masyarakat terhadap bahaya Covid. Secara sosial, manusia memiliki keterbatasan dalam melakukan pertemuan, termasuk dalam sisi pendidikan dan kegiatan sosial lainnya. Ibadah dan pertemuan-pertemuan keagamaan juga sudah terbatas dalam bertatap muka. Seolah menghilangkan sisi kodrat manusia sebagai makhluk sosial.

Menutup tahun 2020, kondisi bangsa ini sepertinya tidak banyak beranjak. Dengan ditandai meningkatnya jumlah penduduk yang terpapar Covid, namun belum adanya alternatif solusi yang meminimalkan korban kecuali dengan beragam tes PCR yang kontroversial, serta dengan optimisme satu-satunya vaksin sebagai solusi akhir.

Konflik ideologi yang berbungkus agama dengan diakhiri tindakan represi seolah menyisakan perdebatan yang tidak berkesudahan. Bahkan, kasus-kasus korupsi seakan menghilang dengan tumpukan berita-berita yang menguras emosi dan energi negatif di setiap orang. Belum lagi kebutuhan primer masyarakat yang seolah dipaksa mengkonsumsi produk impor di saat petani dan UMKM menjerit kesakitan. Ditambah bonus utang yang kelak menambah beban anak cucu bangsa ini.

David R Hawkins seorang psikiater yang terkenal dengan peta kesadaran menjelaskan bahwa manusia memiliki tingkat energi yang mempengaruhi emosi; energi itulah yang mendasari perilaku seseorang. Selama tingkat kesadaran berada pada angka di bawah 200, maka energi yang tersebar adalah energi negatif. Seperti contohnya kondisi emosi yang diwujudkan dalam perilaku yang terendah adalah penghinaan-penolakan, menyalahkan-menghancurkan, putus asa-menyerah, penyesalan-tidak bahagia, kecemasan-menarik diri, hasrat-keinginan kuat berkuasa, kebencian-menyerang, merendahkan-sombong.

Energi negatif tersebut akan menarik seseorang untuk melakukan perilaku negatif lainnya, seperti korupsi, berbohong, narkoba, pelecehan seksual, malas, tidak kompeten dan tidak bertanggung jawab terhadap amanah atau kepercayaan yang seharusnya seseorang jalankan, serta hal-hal negatif lainnya. Energi ini akan cepat menular sampai ke dalam sendi masyarakat terkecil. Bahkan, telah menjadi pandangan hidup sebagian masyarakat dan menjadi kebiasaan, yang pada akhirnya menjadi sistem dan budaya. Sampai semua orang tidak menyadari adanya energi negatif yang secara pelan maupun cepat menggerogoti habis martabat seseorang yang bernama manusia.

Perilaku Positif
Letak perbedaan negara makmur dan negara miskin berada pada perilaku atau sikap pemerintah maupun masyarakatnya. Negara tersebut mampu mencapai kemajuan dikarenakan menerapkan perilaku yang positif, seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, saling menghormati, cinta terhadap pekerjaan, serta perilaku positif lainnya. Untuk mewujudkan perilaku tersebut menurut David R Hawkins harus dibentuk oleh tingkat kesadaran yang berada di atas 200.

Kondisi emosi yang diwujudkan dalam perilaku tersebut seperti, keyakinan-pemberdayaan, kepercayaan-objektif, optimis-mempunyai tujuan, pemaafan-harmonis, memahami-koreksi diri, menghormati-penghargaan, kebahagiaan-pencerahan, sampai energi yang tak terlukiskan karena ketenangan dan kedamaian yang telah tercapai.

Sebagai manusia yang memiliki keyakinan terhadap keberadaan dan pertolongan Tuhan, siapapun tidak diperbolehkan pesimis. Masih ada harapan yang diwujudkan dalam setiap tindakan dan perilaku sebagai individu dalam keseharian dan dalam lingkungan terkecil. Setidaknya dimulai dalam keluarga, masyarakat terkecil.

Dengan menciptakan regulasi-regulasi lokal, sebuah masyarakat terkecil mampu menyebarkan energi positif tersebut ke dalam individu di dalam lingkungan tersebut, sehingga tidak mudah terpengaruh dengan serangan energi negatif yang muncul. Dengan mendatangkan keberanian dan kemauan, energi telah meningkat positif.

Ditambah dengan menyusun tujuan dan bersikap harmonis dan saling menghargai dengan menghadirkan proses berpikir. Perilaku ini bisa di modifikasi dengan sistem atau peraturan sehingga memaksa seseorang untuk bersikap seperti yang lingkungan atau negara inginkan. Hal ini diwujudkan dengan punishment atau sanksi hukum. Seperti dicontohkan oleh negara Singapura, tanpa adanya sanksi yang tegas dalam pelanggaran membuang sampah, tidak akan terwujud Singapura yang bersih sampai hari ini.

Namun, untuk membentuk perilaku tersebut harus dimulai dengan kesadaran yang positif, menularkan energi positif. Tanpanya, mustahil mendapatkan Indonesia maju jika masih menebarkan energi kemarahan, kebencian, kebohongan dan hasrat berkuasa disertai kesombongan. Sebarkan optimisme, bukan ketakutan. Saling menghormati dan menghargai, bukan merendahkan. Saling memaafkan, bukan menyalahkan. Saling mempercayai, bukan membenci.

Dengannya, 2020 menjadi pelajaran perjuangan yang berharga, dengan kesadaran itu pula secara tidak disadari telah memunculkan imunitas sebagai obat utama virus Corona. Dengannya pula 2021 menjadi kebangkitan Indonesia. Dengan kesadaran tinggi untuk menyebarkan energi positif.


sumber: Energi Positif untuk Indonesia (detik.com)

Post a Comment

0 Comments