"New Normal" dalam Perspektif Mahasiswa

Mahasiswa Indonesia di Australia Terpaksa Kuliah Online Karena Wabah COVID-19

Jakarta - 
Berbagai cara dilakukan Indonesia untuk melawan pandemi Covid-19. Edukasi dan ajakan untuk stay at homework from homesocial distancingphysical distancing, penerapan PSBB, hingga lockdown lokal oleh masyarakat mewarnai kehidupan negara selama pandemi. Keadaan ini dilalui dengan masih banyaknya masalah yang menghambat penurunan laju infeksi Covid-19 di Tanah Air. Data yang kurang mencerminkan kondisi lapangan, tenaga medis yang kekurangan alat pelindung diri (APD), bantuan sosial yang berbelit-belit dan tidak tepat sasaran, serta masih banyak lagi isu-isu yang tampaknya dijadikan kesempatan untuk melanggengkan suatu kepentingan.

Tidak bisa dipungkiri bahwa selama dua bulan lebih usaha jaga jarak (physical distancing) ini berdampak pada keuangan negara. Kondisi ekonomi yang terpuruk membuat pemerintah memutar otak, merumuskan kebijakan yang sekiranya ideal bagi pemulihan ekonomi dan penekanan laju penularan. Hingga akhirnya beredar suatu statement dari Presiden bahwa kita harus hidup berdampingan, berdamai dengan Covid-19. Bahkan WHO juga sempat men-declare bahwa virus ini kemungkinan tidak bisa benar-benar hilang dari dunia.

Pemerintah Indonesia berupaya untuk secara bertahap membuka kembali toko, UMKM, kantor, sekolah, dan lain sebagainya dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Hal inilah yang kemudian dikenal dengan new normal. Bagi mahasiswa, penerapan new normal bisa jadi angin segar atau sebaliknya harapan yang menakutkan.

Angin segar, berarti mahasiswa yang selama ini tidak nyaman dengan perkuliahan online dapat kembali merasakan kehidupan kampus seperti biasa walau harus mematuhi protokol kesehatan. Sedangkan new normal bisa menjadi harapan yang menakutkan sebab keinginan mereka untuk kembali ke kampus tidak didukung dengan kondisi di lapangan. Faktanya, kondisi di lapangan membuat mereka takut akan keselamatan diri sendiri karena data masih menunjukkan jumlah kasus positif yang terus meningkat.

Sehingga dengan dibukanya kembali sekolah ataupun kampus berisiko meningkatkan penularan secara drastis, artinya kondisi ini belum aman bagi siswa maupun mahasiswa. Banyak terjadi penambahan kasus baru di beberapa negara setelah mereka memberlakukan new normal, salah satunya dengan membuka kembali sekolah seperti di Korea Selatan dan Swedia.

Berdasarkan hasil survei yang saya lakukan pada 28 Mei 2020, dari 53 mahasiswa yang mengisi kuesioner dapat diketahui bahwa mereka memiliki pemahaman yang baik tentang new normal. Terkait kesiapan mahasiswa dalam menghadapinya, didapatkan 49% mengaku bimbang atas diberlakukannya new normal. Sedangkan, 32,1% siap dan sisanya 18,9% tidak siap dengan new normal.

Kebimbangan yang dihadapi mahasiswa tersebut karena minimnya kajian atau riset tentang dampak new normal jika diterapkan di Indonesia. Selain itu, kurangnya sosialisasi dari pemerintah atas kebijakan yang ditetapkan membuat masyarakat bingung, sehingga pelaksanaannya menjadi tidak sesuai.

Mereka yang siap dengan new normal sadar betapa pentingnya roda ekonomi untuk terus bergerak. Melakukan pemulihan ekonomi menjadi jalan yang dipilih pemerintah supaya meminimalisasi utang negara dan risiko lainnya. Selain itu, rasa bosan dan tekanan psikologis saat di rumah saja membuat mereka bersiap dalam menghadapi new normal. Hal ini diperkuat dengan publikasi thelancet.com yang berjudul Mental health effects of school closures during COVID-19 oleh Joycee Lee (2020).

Dalam publikasi tersebut dituliskan bahwa sekolah merupakan rutinitas yang penting bagi kaum muda untuk mengurangi masalah kesehatan mental. Ketika sekolah ditutup atau diganti dengan online, maka kaum muda yang bersekolah ini kehilangan kebahagiaan dalam hidup yang mereka lalui. "Pergi ke sekolah merupakan perjuangan bagi anak-anak yang memiliki kerapuhan mental, sehingga dengan bersekolah mereka memiliki rutinitas yang perlu diikuti," kata Zanonia Chiu, seorang psikolog klinis anak dan orang dewasa di Hong Kong.

Dia juga mengatakan bahwa dengan sekolah yang ditutup, sebagian dari kaum muda ini mengurung diri dalam kamar selama berminggu-minggu, menolak untuk mandi dan makan serta tidak mau meninggalkan tempat tidur mereka. Hal ini memperjelas bahwa sekolah dari rumah bisa memperburuk kesehatan mental.

Sedangkan para mahasiswa yang tidak siap dengan new normal melihat bahwa peningkatan kasus di Indonesia yang masih terjadi berpotensi menyebabkan ledakan kasus yang lebih parah lagi. Fasilitas kesehatan yang kurang memadai dan kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya keselamatan orang lain juga menjadi alasan mengapa sebaiknya kebijakan yang diambil untuk pembelajaran adalah dengan tatap muka secara daring. Tidak hanya itu, mereka juga beranggapan bahwa new normal bisa saja mengarah pada herd immunity.

Banyak dari mereka yang memilih metode perkuliahan dengan memperpanjang waktu daring. Tetapi banyak juga yang mengusulkan untuk membuat shift, mengurangi jumlah mahasiswa dalam satu kelas, mengatur tempat duduk, serta protokol kesehatan lainnya yang bisa disesuaikan dengan Keputusan Menteri Kesehatan nomor HK.01.07/MENKES/328/2020 tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease 2019 di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha pada Situasi Pandemi.

Selain itu ada juga yang menyarankan untuk sebagian online sebagian lagi offline. Beberapa hal tersebut bisa menjadi alternatif pilihan bagi kampus yang perlu dikaji lebih komprehensif lagi supaya dalam penerapannya bisa meminimalkan risiko. Keraguan-keraguan yang ada di masyarakat khususnya mahasiswa terhadap penerapan new normal ini bukanlah rasa pesimis.

Pemerintah harus fokus dan bersungguh-sungguh atas kebijakan yang dibuat dan didasarkan pula dengan justifikasi ilmiah atau hasil penelitian dari negeri sendiri. Lelah rasanya jika negara berdaulat ini hanya mensitasi dari negara lain yang kondisinya tidak sama persis dengan Tanah Air. Maka memperbanyak riset dan mengedukasi masyarakat menjadi penting untuk terus dilakukan dan digencarkan.











Post a Comment

0 Comments